Sunday, November 12, 2017

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari
25 mei 2016

Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku berangkat ke Mesir. Sebelum orang-orang Mesir tahu namaku, maka hal terbaik yg ku lakukan di tanah kelahiranku adalah memastikan namaku tidak akan berpengaruh untuk kehidupan disana. Ini adalah yg kesekian kalinya aku bertanya perihal namaku. Disini, di depan cermin besar yg terpampang di salah satu pintu lemari pakaianku, aku selalu bertanya dengan sosok lelaki yg kulihat di cermin. `Apa yang salah dengan namamu?` Maka yg kulakukan selanjutnya hanyalah nyengir kuda, lantas bergumam lirih `Tidak, tidak ada yg salah. Ini namaku. Mus, Yohannes Krismus`. Nama yg diberikan Ibu untuk putra semata wayangnya. Mungkin mereka hanya tidak mengerti, namaku yg kurang tepat, atau diriku yg terlampau agresif cuma karena orang-orang itu yg menganggap namaku mirip nama umat Nasrani. ** Sebelum aku memutuskan untuk bertanya lagi pada cermin ini, semuanya telah siap. Segalanya telah pasti. Aku akan berangkat ke negeri Piramid. Menjejakkan kaki di tanah Egyp dengan nama Yohannes Krismus. Tidak ada yg salah, bukan? Tentang hari-hari kemarin itu, omongan orang-orang yg hanya ingin menyeretku ke ruang ketertinggalan, menjatuhkan semangatku karena sebuah nama, kuharap itu akan menjadi hal biasa. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik? Maka aku harus belajar darinya, benar? Mungkin terlalu angkuh jika hanya menyalahkan orang yg menganggap namaku tidak sesuai. Tapi memang begitu adanya. Sebab aku sangat tidak setuju dengan mereka yg menilai kepribadian berdasarkan penampilan luar apalagi nama. Ingat, aku akan berangkat ke Mesir. Salah satu Negara dalam lingkup kerajaan Saudiah. Tanah arab, mayoritas penduduknya muslim. Tapi jangan lupa juga, aku ini muslim. Cuma, namaku-ah, kenapa malah aku yg membuatanya semakin rumit. Tidak adil memang, hanya karena sebuah nama yg tidak cocok, ruang gerakku jadi terbatas. Dulu, saat pertama aku masuk Madrasah Tsanawiyah, jenjang pendidikan menengah, guru pendidikan Al-Qur'an pernah mengeluarkan aku dari kelas. Tidak diizinkan mengikuti pelajarannya tersebab namaku Yohannes Krismus. "Kamu diluar saja ya, tidak perlu mengikuti jam pelajaran ini. Saya mengerti." katanya waktu itu dengan nada bicara yg sangat hati-hati. Pertama, aku heran, apanya yg salah. Kewajiban bersuci sebelum menyentuh Al-Qur'an sudah kulakukan. Aku tak protes, beruntung sahabat dekatku sejak kanak-kanak nyeletuk dari belakang. "Dia muslim juga, ustad. .!" Selamat, aku bisa belajar meski guru itu terlihat agak ragu. Namun setelah mengecek identitas dibelakang absensi dia mempersilahkanku kembali ke tempat duduk, diiringi dengan senyumku yg kecut. Itu baru dikelas semasa MTs. Belum lagi saat aku masuk pendidikan menengah atas. Jangan salah, meski namaku Yohannes Krismus, yang kata seseorang nama depanku disebut "Injil Yohanes" oleh umat Kristiani, dan juga Kris yg menandakan hal yg sama arahnya, tapi aku ingin memperdalam agamaku sebagai umat muslim. Lagi-lagi so'al nama. Itulah yg membuat aku harus memupuskan harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren. Karena kakek tidak mampu untuk menyekolahkanku ke kota, maka hanya ada dua pilihan saat itu. Masuk ke pesantren milik temannya-dengan biaya yg sangat terjangkau atau masuk ke SMA Negeri di kampung yg juga tidak begitu mahal. Aku dengan yakin memilih masuk Ponpes. "Wah, aku kok ndak yakin ya sama cucumu, namanya saja begitu. Nama orang yg tidak percaya sama Allah!" Kata-kata terakhirnya buat aku syok berat. Berhari-hari kulumat perih pernyataan dari teman kakekku itu. "Ndak usah terlalu dipikirkan, Mus. Begitulah orang yg tidak mengerti hakikat nama." Jelas kakekku menghibur. Iya, aku tahu kata-kata kakekku juga hanya diujung lidah saja. Sebab beliau juga pernah protes pada Ibu. Tapi mau bagaimana, di akta kelahiran, namaku Yohannes Krismus. Lagipula, meski ada yg berani membayar harga mahal untuk aku ganti nama, itu hanya mimpi belaka. Nama Yohannes Krismus adalah namaku. Satu-satunya warisan yg ditinggalkan oleh Ibu selain wajahnya yang tak sempat ku lihat. Bagaimanapun keadaannya, aku tetaplah aku. Seperti uang seratus ribu, diinjak sampe lecek pun tetap aja nilainya seratus. Mungkin baiknya tak usah punya nama. Pun bagiku hanya sekedar kiasan. Banyak orang-orang diluar sana yg menamai anaknya dengan nama Rasul Allah, nyatanya seperti teman SMA-ku Muhammad Furqan Jalaluddin. Kerjaannya ke sekolah hanya untuk ngoplos bir bintang sama hemaviton. Aku juga pernah mendengar seorang keturunan arab , muslim fanatik malah tiba-tiba jadi Rahib Yhudaisme (pemuka yahudi) di Irak. Lantas apa yang salah dengan Yohannes Krismus? Jika aku meyakini Tuhanku, Kitabku, Rasulku? Apakah salah jika aku ingin belajar ngaji? Dikenal orang karena dakwah? Punya prdikat masyhur dari Universitas di Mesir? Apakah, aku tidak layak menyandang status muslim karena sebuah nama?? ** Namaku Yohannes Krismus, aku bukan penganut Kristus. Lantas, ada yg salah dengan namaku? *** 

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...