Nora Permatasari, 23 Mei 2016
Kejadian ini bermula
ketika suatu sore Ilhan kembali dari desa neneknya. Entah bagaimana, Ilhan
tiba-tiba lupa arah ke kotanya. Sejauh mata memandang hanya ada jalan yg tak
berujung diselimuti areal hutan. Setelah berdiskusi dengan instingnya, Ilhan
memilih jalan yg menuju ke selatan. Kesialan bagi Ilhan, ban belakang mobilnya
bocor. Sedang dari kejauhan belum ada tanda-tanda Ia akan sampai ke kota. Ban
serep pun tidak tersedia di bagasi. Ilhan pun memutuskan untuk masuk ke dalam
hutan. Kali saja ada pos polisi kehutanan terdekat yg dapat memberinya
petunjuk. Jalanan setapak terus disusuri, tapi sebatang tubuh manusia tak juga
ditemukan. Ilhan menggaruk kepalanya yg tidak gatal, wajahnya ditekuk 60
derajat karena kesal. Dari arloji digital miliknya sudah menunjukkan angka 5.
Sudah sangat sore untuk mencari jalan keluar. "Ini sih namanya
tersesat!" Gerutunya yg kemudian diakhiri dengan mata berbinar atas apa yg
tertangkap oleh penglihatannya. Tak jauh dari tempatnya, dari dalam sebuah gua,
Ia melihat sosok manusia. Tanpa berpikir panjang, Ilhan mendekat. Tepat di
dinding gua dekat pintu masuk, penghuni gua yg ternyata adalah seorang gadis
lebih cepat pula menghampiri Ilhan. Gadis itu tersenyum, dari matanya yg
berwarna cokelat jelas sekali bahwa dia merasa senang dengan kehadiran Ilhan
ditempat itu. Ilhan segera bertanya kepada gadis itu jalan untuk keluar dari
hutan. "Dengan syarat aku bisa ikut bersamamu." Jawab gadis itu
spontan. "Hah, itu tidak mungkin." cegah Ilhan seraya menggeleng. "Saya
tak mengenalimu sama sekali. Mana mungkin saya akan mengajakmu pulang, lagipula
saya hanya tersesat dihutan ini dan meminta bantuanmu. Itu saja!" Tutur
Ilhan panjang lebar sudah tak sabar. Bahkan Ia tak perduli siapa gadis itu,
asal usulnya atau alasan kenapa Ia berada di dalam gua itu. Gadis itu diam, air
wajahnya berubah muram. Mengingat malam akan segera datang, Ilhan mendesah
sambil mengangguk ragu. "Hhh, yasudah. Kamu boleh ikut.." Gadis itu
kembali tersenyum sambil memeluk lengan Ilhan. Jelas saja lelaki itu kaget, lalu
memberi isyarat agar gadis itu menjauh. "Ingat, kamu boleh dekat dengan
saya sejarak 5 jengkal, mengerti?!". Gadis itu menunduk seraya mundur 2
langkah dari Ilhan. Kini keduanya berjalan beriringan. Gadis gua melangkah di
depan sebagai penunjuk jalan. Kata gadis itu, jalan pintas untuk keluar dari
hutan bisa dicapai dengan menyusuri lorong gua. Di dalam gua yg entah seberapa
panjang dan lebarnya itu hanya ada satu jalan, yaitu bebatuan yg membentuk
pematang panjang seukuran jalan setapak. Di kiri-kanan mereka ada aliran
sungai, airnya berasal dari celah-celah bebatuan didinding gua, nyaris seperti
batu es yg mencair. Gadis itu berjalan dengan tenang sambil merentangkan kedua
tangannya, posisi yg seimbang tanpa beban. Gaun berwarna kuning memanjang hingga
ke mata kakinya menjadi sangat mencolok dikegelapan. Sepadan dengan warna
rambut gelombang yg berwarna kuning keemasan tergerai hingga ke pinggang.
Terlihat seperti kerlip kunang-kunang yg menggantung tiap helai rambutnya.
Ilhan sempat berguyon sendiri bahwa gadis itu adalah jelmaan Rapunzel yg
tersesat dihutan Indonesia. Sedang di belakang, Ilhan mulai cemas,
keseimbangannya mulai goyah. Jika pun terjatuh, Ilhan tidak pandai berenang.
Flash light arlojinya dinyalakan, tepat ketika salah satu kakinya terpeleset,
tubuhnya siap melayang ke dalam air, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya
dengan cepat. Jemari gadis itu menggenggam kuat, sedang dia sendiri berusaha
mempertahankan posisi seimbang. Ilhan segera memperbaiki letak kakinya sejajar
dibelakang kaki si gadis gua. Kali ini dia tak dapat menolak untuk melepaskan
pegangan dari gadis yg kini hanya berjarak hampir sejengkal dari tubuhnya. Tak
ada lagi peraturan, keluar dari tempat itu adalah yg utama. ** Dan benar saja,
kini keduanya telah tiba dihalte bus setelah berjalan beberapa meter dari jalan
raya didepan hutan. Hari sudah gelap, sebuah bus kota berhenti. Dengan cepat
Ilhan melompat naik setelah mengangguk sedikit kepada si gadis gua. Gadis itu
nampak begitu takut, desakan penumpang membuat tubuhnya terhuyung tak jelas.
Ilhan terenyuh juga, ditariknya jemari gadis itu lalu digantungkan pada
pegangan karet berdampingan dengan tangannya. Sejenak dia baru berpikir tentang
gadis gua itu. ** Sebelum menuju ke rumahnya, Ilhan mampir sebentar dipasar
malam. Masih dengan gadis yg mengekor dibelakang. Ilhan singgah disebuah tenda
yg menjual perlengkapan wanita. Dia melirik sedikit ke arah si gadis gua yg
baru Ia sadari berjalan dengan kaki telanjang sejak tadi. Sebuah sandal jepit
yg terbuat dari anyaman rotan berwarna ungu muda dipilihnya. Kemudian menyuruh
si gadis untuk mengenakannya. Sang pelayan mengernyit heran. "Tuan, anda
bicara dengan siapa?" Ilhan menunjuk kepada si gadis gua. Pelayan tersebut
menggeleng, lalu mengarahkan cermin besar ke arah Ilhan. Benar, hanya ada
dirinya yg mematung didalam cermin. Lantas Ilhan melirik ke samping. Si gadis
gua hanya tersenyum tipis. ***
No comments:
Post a Comment