Sunday, November 12, 2017

Cerpen "Ilhan & Gadis Gua"

Nora Permatasari, 23 Mei 2016

Kejadian ini bermula ketika suatu sore Ilhan kembali dari desa neneknya. Entah bagaimana, Ilhan tiba-tiba lupa arah ke kotanya. Sejauh mata memandang hanya ada jalan yg tak berujung diselimuti areal hutan. Setelah berdiskusi dengan instingnya, Ilhan memilih jalan yg menuju ke selatan. Kesialan bagi Ilhan, ban belakang mobilnya bocor. Sedang dari kejauhan belum ada tanda-tanda Ia akan sampai ke kota. Ban serep pun tidak tersedia di bagasi. Ilhan pun memutuskan untuk masuk ke dalam hutan. Kali saja ada pos polisi kehutanan terdekat yg dapat memberinya petunjuk. Jalanan setapak terus disusuri, tapi sebatang tubuh manusia tak juga ditemukan. Ilhan menggaruk kepalanya yg tidak gatal, wajahnya ditekuk 60 derajat karena kesal. Dari arloji digital miliknya sudah menunjukkan angka 5. Sudah sangat sore untuk mencari jalan keluar. "Ini sih namanya tersesat!" Gerutunya yg kemudian diakhiri dengan mata berbinar atas apa yg tertangkap oleh penglihatannya. Tak jauh dari tempatnya, dari dalam sebuah gua, Ia melihat sosok manusia. Tanpa berpikir panjang, Ilhan mendekat. Tepat di dinding gua dekat pintu masuk, penghuni gua yg ternyata adalah seorang gadis lebih cepat pula menghampiri Ilhan. Gadis itu tersenyum, dari matanya yg berwarna cokelat jelas sekali bahwa dia merasa senang dengan kehadiran Ilhan ditempat itu. Ilhan segera bertanya kepada gadis itu jalan untuk keluar dari hutan. "Dengan syarat aku bisa ikut bersamamu." Jawab gadis itu spontan. "Hah, itu tidak mungkin." cegah Ilhan seraya menggeleng. "Saya tak mengenalimu sama sekali. Mana mungkin saya akan mengajakmu pulang, lagipula saya hanya tersesat dihutan ini dan meminta bantuanmu. Itu saja!" Tutur Ilhan panjang lebar sudah tak sabar. Bahkan Ia tak perduli siapa gadis itu, asal usulnya atau alasan kenapa Ia berada di dalam gua itu. Gadis itu diam, air wajahnya berubah muram. Mengingat malam akan segera datang, Ilhan mendesah sambil mengangguk ragu. "Hhh, yasudah. Kamu boleh ikut.." Gadis itu kembali tersenyum sambil memeluk lengan Ilhan. Jelas saja lelaki itu kaget, lalu memberi isyarat agar gadis itu menjauh. "Ingat, kamu boleh dekat dengan saya sejarak 5 jengkal, mengerti?!". Gadis itu menunduk seraya mundur 2 langkah dari Ilhan. Kini keduanya berjalan beriringan. Gadis gua melangkah di depan sebagai penunjuk jalan. Kata gadis itu, jalan pintas untuk keluar dari hutan bisa dicapai dengan menyusuri lorong gua. Di dalam gua yg entah seberapa panjang dan lebarnya itu hanya ada satu jalan, yaitu bebatuan yg membentuk pematang panjang seukuran jalan setapak. Di kiri-kanan mereka ada aliran sungai, airnya berasal dari celah-celah bebatuan didinding gua, nyaris seperti batu es yg mencair. Gadis itu berjalan dengan tenang sambil merentangkan kedua tangannya, posisi yg seimbang tanpa beban. Gaun berwarna kuning memanjang hingga ke mata kakinya menjadi sangat mencolok dikegelapan. Sepadan dengan warna rambut gelombang yg berwarna kuning keemasan tergerai hingga ke pinggang. Terlihat seperti kerlip kunang-kunang yg menggantung tiap helai rambutnya. Ilhan sempat berguyon sendiri bahwa gadis itu adalah jelmaan Rapunzel yg tersesat dihutan Indonesia. Sedang di belakang, Ilhan mulai cemas, keseimbangannya mulai goyah. Jika pun terjatuh, Ilhan tidak pandai berenang. Flash light arlojinya dinyalakan, tepat ketika salah satu kakinya terpeleset, tubuhnya siap melayang ke dalam air, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dengan cepat. Jemari gadis itu menggenggam kuat, sedang dia sendiri berusaha mempertahankan posisi seimbang. Ilhan segera memperbaiki letak kakinya sejajar dibelakang kaki si gadis gua. Kali ini dia tak dapat menolak untuk melepaskan pegangan dari gadis yg kini hanya berjarak hampir sejengkal dari tubuhnya. Tak ada lagi peraturan, keluar dari tempat itu adalah yg utama. ** Dan benar saja, kini keduanya telah tiba dihalte bus setelah berjalan beberapa meter dari jalan raya didepan hutan. Hari sudah gelap, sebuah bus kota berhenti. Dengan cepat Ilhan melompat naik setelah mengangguk sedikit kepada si gadis gua. Gadis itu nampak begitu takut, desakan penumpang membuat tubuhnya terhuyung tak jelas. Ilhan terenyuh juga, ditariknya jemari gadis itu lalu digantungkan pada pegangan karet berdampingan dengan tangannya. Sejenak dia baru berpikir tentang gadis gua itu. ** Sebelum menuju ke rumahnya, Ilhan mampir sebentar dipasar malam. Masih dengan gadis yg mengekor dibelakang. Ilhan singgah disebuah tenda yg menjual perlengkapan wanita. Dia melirik sedikit ke arah si gadis gua yg baru Ia sadari berjalan dengan kaki telanjang sejak tadi. Sebuah sandal jepit yg terbuat dari anyaman rotan berwarna ungu muda dipilihnya. Kemudian menyuruh si gadis untuk mengenakannya. Sang pelayan mengernyit heran. "Tuan, anda bicara dengan siapa?" Ilhan menunjuk kepada si gadis gua. Pelayan tersebut menggeleng, lalu mengarahkan cermin besar ke arah Ilhan. Benar, hanya ada dirinya yg mematung didalam cermin. Lantas Ilhan melirik ke samping. Si gadis gua hanya tersenyum tipis. ***

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...