Nora Permatasari
25 mei 2016
Namaku Mus, Yohannes
Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum
aku berangkat ke Mesir. Sebelum orang-orang Mesir tahu namaku, maka hal terbaik
yg ku lakukan di tanah kelahiranku adalah memastikan namaku tidak akan
berpengaruh untuk kehidupan disana. Ini adalah yg kesekian kalinya aku bertanya
perihal namaku. Disini, di depan cermin besar yg terpampang di salah satu pintu
lemari pakaianku, aku selalu bertanya dengan sosok lelaki yg kulihat di cermin.
`Apa yang salah dengan namamu?` Maka yg kulakukan selanjutnya hanyalah nyengir
kuda, lantas bergumam lirih `Tidak, tidak ada yg salah. Ini namaku. Mus,
Yohannes Krismus`. Nama yg diberikan Ibu untuk putra semata wayangnya. Mungkin
mereka hanya tidak mengerti, namaku yg kurang tepat, atau diriku yg terlampau
agresif cuma karena orang-orang itu yg menganggap namaku mirip nama umat
Nasrani. ** Sebelum aku memutuskan untuk bertanya lagi pada cermin ini, semuanya
telah siap. Segalanya telah pasti. Aku akan berangkat ke negeri Piramid.
Menjejakkan kaki di tanah Egyp dengan nama Yohannes Krismus. Tidak ada yg
salah, bukan? Tentang hari-hari kemarin itu, omongan orang-orang yg hanya ingin
menyeretku ke ruang ketertinggalan, menjatuhkan semangatku karena sebuah nama,
kuharap itu akan menjadi hal biasa. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik?
Maka aku harus belajar darinya, benar? Mungkin terlalu angkuh jika hanya
menyalahkan orang yg menganggap namaku tidak sesuai. Tapi memang begitu adanya.
Sebab aku sangat tidak setuju dengan mereka yg menilai kepribadian berdasarkan
penampilan luar apalagi nama. Ingat, aku akan berangkat ke Mesir. Salah satu
Negara dalam lingkup kerajaan Saudiah. Tanah arab, mayoritas penduduknya muslim.
Tapi jangan lupa juga, aku ini muslim. Cuma, namaku-ah, kenapa malah aku yg
membuatanya semakin rumit. Tidak adil memang, hanya karena sebuah nama yg tidak
cocok, ruang gerakku jadi terbatas. Dulu, saat pertama aku masuk Madrasah
Tsanawiyah, jenjang pendidikan menengah, guru pendidikan Al-Qur'an pernah
mengeluarkan aku dari kelas. Tidak diizinkan mengikuti pelajarannya tersebab
namaku Yohannes Krismus. "Kamu diluar saja ya, tidak perlu mengikuti jam
pelajaran ini. Saya mengerti." katanya waktu itu dengan nada bicara yg
sangat hati-hati. Pertama, aku heran, apanya yg salah. Kewajiban bersuci
sebelum menyentuh Al-Qur'an sudah kulakukan. Aku tak protes, beruntung sahabat
dekatku sejak kanak-kanak nyeletuk dari belakang. "Dia muslim juga, ustad.
.!" Selamat, aku bisa belajar meski guru itu terlihat agak ragu. Namun
setelah mengecek identitas dibelakang absensi dia mempersilahkanku kembali ke
tempat duduk, diiringi dengan senyumku yg kecut. Itu baru dikelas semasa MTs.
Belum lagi saat aku masuk pendidikan menengah atas. Jangan salah, meski namaku
Yohannes Krismus, yang kata seseorang nama depanku disebut "Injil
Yohanes" oleh umat Kristiani, dan juga Kris yg menandakan hal yg sama
arahnya, tapi aku ingin memperdalam agamaku sebagai umat muslim. Lagi-lagi
so'al nama. Itulah yg membuat aku harus memupuskan harapan untuk bisa
melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren. Karena kakek tidak mampu untuk
menyekolahkanku ke kota, maka hanya ada dua pilihan saat itu. Masuk ke
pesantren milik temannya-dengan biaya yg sangat terjangkau atau masuk ke SMA
Negeri di kampung yg juga tidak begitu mahal. Aku dengan yakin memilih masuk
Ponpes. "Wah, aku kok ndak yakin ya sama cucumu, namanya saja begitu. Nama
orang yg tidak percaya sama Allah!" Kata-kata terakhirnya buat aku syok berat.
Berhari-hari kulumat perih pernyataan dari teman kakekku itu. "Ndak usah
terlalu dipikirkan, Mus. Begitulah orang yg tidak mengerti hakikat nama."
Jelas kakekku menghibur. Iya, aku tahu kata-kata kakekku juga hanya diujung
lidah saja. Sebab beliau juga pernah protes pada Ibu. Tapi mau bagaimana, di
akta kelahiran, namaku Yohannes Krismus. Lagipula, meski ada yg berani membayar
harga mahal untuk aku ganti nama, itu hanya mimpi belaka. Nama Yohannes Krismus
adalah namaku. Satu-satunya warisan yg ditinggalkan oleh Ibu selain wajahnya
yang tak sempat ku lihat. Bagaimanapun keadaannya, aku tetaplah aku. Seperti
uang seratus ribu, diinjak sampe lecek pun tetap aja nilainya seratus. Mungkin
baiknya tak usah punya nama. Pun bagiku hanya sekedar kiasan. Banyak
orang-orang diluar sana yg menamai anaknya dengan nama Rasul Allah, nyatanya
seperti teman SMA-ku Muhammad Furqan Jalaluddin. Kerjaannya ke sekolah hanya
untuk ngoplos bir bintang sama hemaviton. Aku juga pernah mendengar seorang
keturunan arab , muslim fanatik malah tiba-tiba jadi Rahib Yhudaisme (pemuka
yahudi) di Irak. Lantas apa yang salah dengan Yohannes Krismus? Jika aku
meyakini Tuhanku, Kitabku, Rasulku? Apakah salah jika aku ingin belajar ngaji?
Dikenal orang karena dakwah? Punya prdikat masyhur dari Universitas di Mesir?
Apakah, aku tidak layak menyandang status muslim karena sebuah nama?? ** Namaku
Yohannes Krismus, aku bukan penganut Kristus. Lantas, ada yg salah dengan
namaku? ***