Sunday, November 12, 2017

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari
25 mei 2016

Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku berangkat ke Mesir. Sebelum orang-orang Mesir tahu namaku, maka hal terbaik yg ku lakukan di tanah kelahiranku adalah memastikan namaku tidak akan berpengaruh untuk kehidupan disana. Ini adalah yg kesekian kalinya aku bertanya perihal namaku. Disini, di depan cermin besar yg terpampang di salah satu pintu lemari pakaianku, aku selalu bertanya dengan sosok lelaki yg kulihat di cermin. `Apa yang salah dengan namamu?` Maka yg kulakukan selanjutnya hanyalah nyengir kuda, lantas bergumam lirih `Tidak, tidak ada yg salah. Ini namaku. Mus, Yohannes Krismus`. Nama yg diberikan Ibu untuk putra semata wayangnya. Mungkin mereka hanya tidak mengerti, namaku yg kurang tepat, atau diriku yg terlampau agresif cuma karena orang-orang itu yg menganggap namaku mirip nama umat Nasrani. ** Sebelum aku memutuskan untuk bertanya lagi pada cermin ini, semuanya telah siap. Segalanya telah pasti. Aku akan berangkat ke negeri Piramid. Menjejakkan kaki di tanah Egyp dengan nama Yohannes Krismus. Tidak ada yg salah, bukan? Tentang hari-hari kemarin itu, omongan orang-orang yg hanya ingin menyeretku ke ruang ketertinggalan, menjatuhkan semangatku karena sebuah nama, kuharap itu akan menjadi hal biasa. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik? Maka aku harus belajar darinya, benar? Mungkin terlalu angkuh jika hanya menyalahkan orang yg menganggap namaku tidak sesuai. Tapi memang begitu adanya. Sebab aku sangat tidak setuju dengan mereka yg menilai kepribadian berdasarkan penampilan luar apalagi nama. Ingat, aku akan berangkat ke Mesir. Salah satu Negara dalam lingkup kerajaan Saudiah. Tanah arab, mayoritas penduduknya muslim. Tapi jangan lupa juga, aku ini muslim. Cuma, namaku-ah, kenapa malah aku yg membuatanya semakin rumit. Tidak adil memang, hanya karena sebuah nama yg tidak cocok, ruang gerakku jadi terbatas. Dulu, saat pertama aku masuk Madrasah Tsanawiyah, jenjang pendidikan menengah, guru pendidikan Al-Qur'an pernah mengeluarkan aku dari kelas. Tidak diizinkan mengikuti pelajarannya tersebab namaku Yohannes Krismus. "Kamu diluar saja ya, tidak perlu mengikuti jam pelajaran ini. Saya mengerti." katanya waktu itu dengan nada bicara yg sangat hati-hati. Pertama, aku heran, apanya yg salah. Kewajiban bersuci sebelum menyentuh Al-Qur'an sudah kulakukan. Aku tak protes, beruntung sahabat dekatku sejak kanak-kanak nyeletuk dari belakang. "Dia muslim juga, ustad. .!" Selamat, aku bisa belajar meski guru itu terlihat agak ragu. Namun setelah mengecek identitas dibelakang absensi dia mempersilahkanku kembali ke tempat duduk, diiringi dengan senyumku yg kecut. Itu baru dikelas semasa MTs. Belum lagi saat aku masuk pendidikan menengah atas. Jangan salah, meski namaku Yohannes Krismus, yang kata seseorang nama depanku disebut "Injil Yohanes" oleh umat Kristiani, dan juga Kris yg menandakan hal yg sama arahnya, tapi aku ingin memperdalam agamaku sebagai umat muslim. Lagi-lagi so'al nama. Itulah yg membuat aku harus memupuskan harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren. Karena kakek tidak mampu untuk menyekolahkanku ke kota, maka hanya ada dua pilihan saat itu. Masuk ke pesantren milik temannya-dengan biaya yg sangat terjangkau atau masuk ke SMA Negeri di kampung yg juga tidak begitu mahal. Aku dengan yakin memilih masuk Ponpes. "Wah, aku kok ndak yakin ya sama cucumu, namanya saja begitu. Nama orang yg tidak percaya sama Allah!" Kata-kata terakhirnya buat aku syok berat. Berhari-hari kulumat perih pernyataan dari teman kakekku itu. "Ndak usah terlalu dipikirkan, Mus. Begitulah orang yg tidak mengerti hakikat nama." Jelas kakekku menghibur. Iya, aku tahu kata-kata kakekku juga hanya diujung lidah saja. Sebab beliau juga pernah protes pada Ibu. Tapi mau bagaimana, di akta kelahiran, namaku Yohannes Krismus. Lagipula, meski ada yg berani membayar harga mahal untuk aku ganti nama, itu hanya mimpi belaka. Nama Yohannes Krismus adalah namaku. Satu-satunya warisan yg ditinggalkan oleh Ibu selain wajahnya yang tak sempat ku lihat. Bagaimanapun keadaannya, aku tetaplah aku. Seperti uang seratus ribu, diinjak sampe lecek pun tetap aja nilainya seratus. Mungkin baiknya tak usah punya nama. Pun bagiku hanya sekedar kiasan. Banyak orang-orang diluar sana yg menamai anaknya dengan nama Rasul Allah, nyatanya seperti teman SMA-ku Muhammad Furqan Jalaluddin. Kerjaannya ke sekolah hanya untuk ngoplos bir bintang sama hemaviton. Aku juga pernah mendengar seorang keturunan arab , muslim fanatik malah tiba-tiba jadi Rahib Yhudaisme (pemuka yahudi) di Irak. Lantas apa yang salah dengan Yohannes Krismus? Jika aku meyakini Tuhanku, Kitabku, Rasulku? Apakah salah jika aku ingin belajar ngaji? Dikenal orang karena dakwah? Punya prdikat masyhur dari Universitas di Mesir? Apakah, aku tidak layak menyandang status muslim karena sebuah nama?? ** Namaku Yohannes Krismus, aku bukan penganut Kristus. Lantas, ada yg salah dengan namaku? *** 

Cerpen "Ilhan & Gadis Gua"

Nora Permatasari, 23 Mei 2016

Kejadian ini bermula ketika suatu sore Ilhan kembali dari desa neneknya. Entah bagaimana, Ilhan tiba-tiba lupa arah ke kotanya. Sejauh mata memandang hanya ada jalan yg tak berujung diselimuti areal hutan. Setelah berdiskusi dengan instingnya, Ilhan memilih jalan yg menuju ke selatan. Kesialan bagi Ilhan, ban belakang mobilnya bocor. Sedang dari kejauhan belum ada tanda-tanda Ia akan sampai ke kota. Ban serep pun tidak tersedia di bagasi. Ilhan pun memutuskan untuk masuk ke dalam hutan. Kali saja ada pos polisi kehutanan terdekat yg dapat memberinya petunjuk. Jalanan setapak terus disusuri, tapi sebatang tubuh manusia tak juga ditemukan. Ilhan menggaruk kepalanya yg tidak gatal, wajahnya ditekuk 60 derajat karena kesal. Dari arloji digital miliknya sudah menunjukkan angka 5. Sudah sangat sore untuk mencari jalan keluar. "Ini sih namanya tersesat!" Gerutunya yg kemudian diakhiri dengan mata berbinar atas apa yg tertangkap oleh penglihatannya. Tak jauh dari tempatnya, dari dalam sebuah gua, Ia melihat sosok manusia. Tanpa berpikir panjang, Ilhan mendekat. Tepat di dinding gua dekat pintu masuk, penghuni gua yg ternyata adalah seorang gadis lebih cepat pula menghampiri Ilhan. Gadis itu tersenyum, dari matanya yg berwarna cokelat jelas sekali bahwa dia merasa senang dengan kehadiran Ilhan ditempat itu. Ilhan segera bertanya kepada gadis itu jalan untuk keluar dari hutan. "Dengan syarat aku bisa ikut bersamamu." Jawab gadis itu spontan. "Hah, itu tidak mungkin." cegah Ilhan seraya menggeleng. "Saya tak mengenalimu sama sekali. Mana mungkin saya akan mengajakmu pulang, lagipula saya hanya tersesat dihutan ini dan meminta bantuanmu. Itu saja!" Tutur Ilhan panjang lebar sudah tak sabar. Bahkan Ia tak perduli siapa gadis itu, asal usulnya atau alasan kenapa Ia berada di dalam gua itu. Gadis itu diam, air wajahnya berubah muram. Mengingat malam akan segera datang, Ilhan mendesah sambil mengangguk ragu. "Hhh, yasudah. Kamu boleh ikut.." Gadis itu kembali tersenyum sambil memeluk lengan Ilhan. Jelas saja lelaki itu kaget, lalu memberi isyarat agar gadis itu menjauh. "Ingat, kamu boleh dekat dengan saya sejarak 5 jengkal, mengerti?!". Gadis itu menunduk seraya mundur 2 langkah dari Ilhan. Kini keduanya berjalan beriringan. Gadis gua melangkah di depan sebagai penunjuk jalan. Kata gadis itu, jalan pintas untuk keluar dari hutan bisa dicapai dengan menyusuri lorong gua. Di dalam gua yg entah seberapa panjang dan lebarnya itu hanya ada satu jalan, yaitu bebatuan yg membentuk pematang panjang seukuran jalan setapak. Di kiri-kanan mereka ada aliran sungai, airnya berasal dari celah-celah bebatuan didinding gua, nyaris seperti batu es yg mencair. Gadis itu berjalan dengan tenang sambil merentangkan kedua tangannya, posisi yg seimbang tanpa beban. Gaun berwarna kuning memanjang hingga ke mata kakinya menjadi sangat mencolok dikegelapan. Sepadan dengan warna rambut gelombang yg berwarna kuning keemasan tergerai hingga ke pinggang. Terlihat seperti kerlip kunang-kunang yg menggantung tiap helai rambutnya. Ilhan sempat berguyon sendiri bahwa gadis itu adalah jelmaan Rapunzel yg tersesat dihutan Indonesia. Sedang di belakang, Ilhan mulai cemas, keseimbangannya mulai goyah. Jika pun terjatuh, Ilhan tidak pandai berenang. Flash light arlojinya dinyalakan, tepat ketika salah satu kakinya terpeleset, tubuhnya siap melayang ke dalam air, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dengan cepat. Jemari gadis itu menggenggam kuat, sedang dia sendiri berusaha mempertahankan posisi seimbang. Ilhan segera memperbaiki letak kakinya sejajar dibelakang kaki si gadis gua. Kali ini dia tak dapat menolak untuk melepaskan pegangan dari gadis yg kini hanya berjarak hampir sejengkal dari tubuhnya. Tak ada lagi peraturan, keluar dari tempat itu adalah yg utama. ** Dan benar saja, kini keduanya telah tiba dihalte bus setelah berjalan beberapa meter dari jalan raya didepan hutan. Hari sudah gelap, sebuah bus kota berhenti. Dengan cepat Ilhan melompat naik setelah mengangguk sedikit kepada si gadis gua. Gadis itu nampak begitu takut, desakan penumpang membuat tubuhnya terhuyung tak jelas. Ilhan terenyuh juga, ditariknya jemari gadis itu lalu digantungkan pada pegangan karet berdampingan dengan tangannya. Sejenak dia baru berpikir tentang gadis gua itu. ** Sebelum menuju ke rumahnya, Ilhan mampir sebentar dipasar malam. Masih dengan gadis yg mengekor dibelakang. Ilhan singgah disebuah tenda yg menjual perlengkapan wanita. Dia melirik sedikit ke arah si gadis gua yg baru Ia sadari berjalan dengan kaki telanjang sejak tadi. Sebuah sandal jepit yg terbuat dari anyaman rotan berwarna ungu muda dipilihnya. Kemudian menyuruh si gadis untuk mengenakannya. Sang pelayan mengernyit heran. "Tuan, anda bicara dengan siapa?" Ilhan menunjuk kepada si gadis gua. Pelayan tersebut menggeleng, lalu mengarahkan cermin besar ke arah Ilhan. Benar, hanya ada dirinya yg mematung didalam cermin. Lantas Ilhan melirik ke samping. Si gadis gua hanya tersenyum tipis. ***

Cerpen 'Sang Detektif'

Nora Permatasari, 18 April 2016


"Perfect!" Lelaki berusia 30 tahun bergumam sambil tersenyum lebar didepan cermin. Lengan kemeja berwarna hitam dilipat menjadi seperempat. Selanjutnya dia beralih ke gantungan baju lalu mengambil jaket berwarna ungu tua. Dibalik jaket lapuk kesayangannya itu, tak lupa diselipkan pistol magnum 4.4 yg disisakan sebiji peluru hanya untuk satu orang yg beruntung. Ya, beruntung dijemput ajal lewat bantuan sang detektif. Im Dante, begitu orang-orang memanggilnya. Setelah menyiapkan segalanya dengan sempurna; termasuk permen karet si teman setia, dia keluar dari apartemennya dengan yakin. Menemui bos besar mafia morfin yg katanya siap meninggalkan negeri ini dan berhenti mengedarkan racun propellent untuk pengusaha rokok ilegal. Tentu Im Dante tak kan percaya begitu saja, maka setelah menerima surat rahasia yg ditulis dengan air jeruk nipis dari David Van kemarin, Im Dante bertekad kali ini tak boleh gagal. Inspektur Han sangat mempercayai final kasus ini kepada Im Dante, meski komrad yg lain menganggap Im Dante hanya seorang detektif partikelir kacangan. Inilah kesempatan untuk Im Dante membuktikan bahwa dia mampu mendepak tuntas David Van beserta agen-agennya. Sebenarnya, tak ada yg dapat diragukan dari kerja seorang Im Dante. Sebab sudah banyak kasus yg berhasil terungkap olehnya. Seperti: tewasnya seorang jaksa karena keracunan disebuah hotel bintang lima, meninggalnya adik Inspektur Han karena racun serangga yg dioleskan dibatang rokoknya, dan sederet kematian mengenaskan para petinggi negeri. Semuanya terkuak atas penelitian objektif dan insting kuat Im Dante yg mirip dengan insting anjing pelacak berjenis dorsmen. Tepat pukul sepuluh pagi, Im Dante menaiki bus kota yg akan mengantarkannya ke jalan Pertiwi, sepuluh meter dari Turkish Restaurant-tempat Ia akan menemui David Van. Dia sengaja menggunakan jasa angkutan umum sebab ingin duduk tenang tanpa harus berkonsentrasi untuk mengemudi. Fokusnya kali ini adalah untuk menjulangkan reputasi diri sebagai detektif partikelir yg tidak boleh dianggap remeh. Selain untuk menghargai kepercayaan Inspektur Han, juga demi Negara yg kesuciannya mulai ternodai oleh tangan-tangan pendatang. David Van, tak banyak yg dia tahu dari Pria yg menurut Inspektur Han berkepala mesin hidroponix itu. Selama ini dalang dari pembunuhan-pembunuhan yg terencana secara halus adalah David Van. Dinas Intelijen Negara masih gagal mengungkap keberadaannya. Tersangka dibalik pembunuhan yg merupakan agen David Van rela dieksekusi mati daripada membuka mulut. Itulah yg membuat Im Dante geram dan sangat bernafsu untuk mengincar bos besarnya. Im Dante memperbaiki posisi duduk lalu merogoh saku celananya dan siap mengunyah mesra permen karet. Seorang wanita yg duduk bersebelahan dengannya membuyarkan konsentrasi sang detektif. Im Dante memang selalu tergoda dengan wanita yg serius membaca buku. Entah kenapa, selalu ada daya tarik tersendiri dari wanita yg membaca buku. Benarlah kata detektif fiksi legendaris Sherlock Holmes, wanita adalah pengganggu. Meski wanita itu tak berniat untuk menggangunya, tetap saja Im Dante terpaksa mengunyah permen karet dengan gaya peristaltik agar mendapatkan kembali fokusnya. Tapi tunggu, instingnya yg kadang berupa ilham itu mensinyalkan bahwa wanita yg duduk disampingnya adalah komplotan David Van. "Ah, jangan khawatir. Aku memang akan menemuinya!" Ujar Im Dante sambil meludahi ampas permen keluar jendela. Wanita itu tak menggubris. ** Turkish Restaurant sudah didepan mata. Im Dante memang tak seperti Sherlock Holmes yg memiliki penglihatan setajam elang. Tapi ekor matanya tak pernah meleset menangkap gelagat agen David Van yg menyamar disekitar restaurant. Sebenarnya, Inspektur Han menyarankan agar Im Dante dikawali beberapa intel yg juga akan menyamar. Tapi dia menolak, karena ingin menemui musuh besarnya sebagai Imbara Dante yg berdiri diatas kekuatan sendiri. Turkish Restaurant menawarkan keramahan seperti biasa. Tapi selalu ada yg janggal di indra penciuman Im Dante yg bisa mencapai beberapa radius itu. Bahkan ditempat umum dan familiar seperti restaurant ini. Untuk mengindari jebakan, Im Dante tak mau memesan menu apa-apa. Malah berkata dingin kepada seorang waittress perempuan yg mengerlingkan mata. "Katakan, aku tak punya banyak waktu!". Menu daruratnya keluar, permen karet lagi-lagi jadi santapan favorit ketika diwaktu yg bersamaan muncul lelaki tua yg tersenyum ramah. "Kamu Dante, benar?" Garis wajah dan hidung besar lelaki itu memundurkan ingatan Im Dante jauh ke sembilan tahun yg lalu. "Sir Hugo??Haa, bagaimana mungkin?!" Tangkas Im Dante, tawa renyah keduanya pun pecah seraya merangkulkan bahu. Mereka pun berbincang sambil mengulas masa lalu. Sir Hugo adalah dosen fisika kuantum di Adelaide University-Australia. Seorang pria lajang yg ramah, sekaligus menjadi teman akrab Im Dante semasa studi-nya di Adelaide. Tapi dibalik itu semua, insting Im Dante bergelora bahwa Sir Hugo adalah David Van yg mengubah identitas. *** oleh: N o r a

Cerpen 'Sang Detektif'

Nora Permatasari, 18 April 2016


"Perfect!" Lelaki berusia 30 tahun bergumam sambil tersenyum lebar didepan cermin. Lengan kemeja berwarna hitam dilipat menjadi seperempat. Selanjutnya dia beralih ke gantungan baju lalu mengambil jaket berwarna ungu tua. Dibalik jaket lapuk kesayangannya itu, tak lupa diselipkan pistol magnum 4.4 yg disisakan sebiji peluru hanya untuk satu orang yg beruntung. Ya, beruntung dijemput ajal lewat bantuan sang detektif. Im Dante, begitu orang-orang memanggilnya. Setelah menyiapkan segalanya dengan sempurna; termasuk permen karet si teman setia, dia keluar dari apartemennya dengan yakin. Menemui bos besar mafia morfin yg katanya siap meninggalkan negeri ini dan berhenti mengedarkan racun propellent untuk pengusaha rokok ilegal. Tentu Im Dante tak kan percaya begitu saja, maka setelah menerima surat rahasia yg ditulis dengan air jeruk nipis dari David Van kemarin, Im Dante bertekad kali ini tak boleh gagal. Inspektur Han sangat mempercayai final kasus ini kepada Im Dante, meski komrad yg lain menganggap Im Dante hanya seorang detektif partikelir kacangan. Inilah kesempatan untuk Im Dante membuktikan bahwa dia mampu mendepak tuntas David Van beserta agen-agennya. Sebenarnya, tak ada yg dapat diragukan dari kerja seorang Im Dante. Sebab sudah banyak kasus yg berhasil terungkap olehnya. Seperti: tewasnya seorang jaksa karena keracunan disebuah hotel bintang lima, meninggalnya adik Inspektur Han karena racun serangga yg dioleskan dibatang rokoknya, dan sederet kematian mengenaskan para petinggi negeri. Semuanya terkuak atas penelitian objektif dan insting kuat Im Dante yg mirip dengan insting anjing pelacak berjenis dorsmen. Tepat pukul sepuluh pagi, Im Dante menaiki bus kota yg akan mengantarkannya ke jalan Pertiwi, sepuluh meter dari Turkish Restaurant-tempat Ia akan menemui David Van. Dia sengaja menggunakan jasa angkutan umum sebab ingin duduk tenang tanpa harus berkonsentrasi untuk mengemudi. Fokusnya kali ini adalah untuk menjulangkan reputasi diri sebagai detektif partikelir yg tidak boleh dianggap remeh. Selain untuk menghargai kepercayaan Inspektur Han, juga demi Negara yg kesuciannya mulai ternodai oleh tangan-tangan pendatang. David Van, tak banyak yg dia tahu dari Pria yg menurut Inspektur Han berkepala mesin hidroponix itu. Selama ini dalang dari pembunuhan-pembunuhan yg terencana secara halus adalah David Van. Dinas Intelijen Negara masih gagal mengungkap keberadaannya. Tersangka dibalik pembunuhan yg merupakan agen David Van rela dieksekusi mati daripada membuka mulut. Itulah yg membuat Im Dante geram dan sangat bernafsu untuk mengincar bos besarnya. Im Dante memperbaiki posisi duduk lalu merogoh saku celananya dan siap mengunyah mesra permen karet. Seorang wanita yg duduk bersebelahan dengannya membuyarkan konsentrasi sang detektif. Im Dante memang selalu tergoda dengan wanita yg serius membaca buku. Entah kenapa, selalu ada daya tarik tersendiri dari wanita yg membaca buku. Benarlah kata detektif fiksi legendaris Sherlock Holmes, wanita adalah pengganggu. Meski wanita itu tak berniat untuk menggangunya, tetap saja Im Dante terpaksa mengunyah permen karet dengan gaya peristaltik agar mendapatkan kembali fokusnya. Tapi tunggu, instingnya yg kadang berupa ilham itu mensinyalkan bahwa wanita yg duduk disampingnya adalah komplotan David Van. "Ah, jangan khawatir. Aku memang akan menemuinya!" Ujar Im Dante sambil meludahi ampas permen keluar jendela. Wanita itu tak menggubris. ** Turkish Restaurant sudah didepan mata. Im Dante memang tak seperti Sherlock Holmes yg memiliki penglihatan setajam elang. Tapi ekor matanya tak pernah meleset menangkap gelagat agen David Van yg menyamar disekitar restaurant. Sebenarnya, Inspektur Han menyarankan agar Im Dante dikawali beberapa intel yg juga akan menyamar. Tapi dia menolak, karena ingin menemui musuh besarnya sebagai Imbara Dante yg berdiri diatas kekuatan sendiri. Turkish Restaurant menawarkan keramahan seperti biasa. Tapi selalu ada yg janggal di indra penciuman Im Dante yg bisa mencapai beberapa radius itu. Bahkan ditempat umum dan familiar seperti restaurant ini. Untuk mengindari jebakan, Im Dante tak mau memesan menu apa-apa. Malah berkata dingin kepada seorang waittress perempuan yg mengerlingkan mata. "Katakan, aku tak punya banyak waktu!". Menu daruratnya keluar, permen karet lagi-lagi jadi santapan favorit ketika diwaktu yg bersamaan muncul lelaki tua yg tersenyum ramah. "Kamu Dante, benar?" Garis wajah dan hidung besar lelaki itu memundurkan ingatan Im Dante jauh ke sembilan tahun yg lalu. "Sir Hugo??Haa, bagaimana mungkin?!" Tangkas Im Dante, tawa renyah keduanya pun pecah seraya merangkulkan bahu. Mereka pun berbincang sambil mengulas masa lalu. Sir Hugo adalah dosen fisika kuantum di Adelaide University-Australia. Seorang pria lajang yg ramah, sekaligus menjadi teman akrab Im Dante semasa studi-nya di Adelaide. Tapi dibalik itu semua, insting Im Dante bergelora bahwa Sir Hugo adalah David Van yg mengubah identitas. *** oleh: N o r a

Cerpen " Jendela Dimensi Kelabu"

Cerpen " Jendela Dimensi Kelabu"

Nora Permatasari, 15 April 2016


Kali ini pemandangan dibalik jendela itu dapat terlihat dengan jelas. Meski tetap dengan latar belakangnya yg berwarna kelabu, namun manusia yg ada didalamnya tidak lagi seperti gambar berlensa buram. Seorang gadis kecil berusia sekitar 4 tahun menggelendot dikaki ibunya. Dia berteriak-teriak cadel sambil mengusap hidungnya yg mengalirkan ingus. Wajah manis dan lucu tertutup debu yg menghitam karena bercampur dengan air mata. Sekali lagi sang Ibu mencubit pinggang putrinya hingga anak itu berjingkat menahan nyeri. Tangisnya mendadak keras dan semakin menjadi-jadi. Sedang didepan jendela, Lugaina, seorang gadis muda, model terkenal nan cerdas berteriak histeris. Tak pernah ada dalam bayangannya menjadi seorang Ibu dari anak yg kumel dan susah diatur. "Celaka! Tidak boleh seperti itu." Lugaina menarik napas panjang sambil meraba botol air mineralnya. Dia sedikit lega sebab berhasil enyah dari depan jendela sebelum mencapai adegan berikutnya. Sebenarnya, Lugaina berada didepan jendela itu setiap dia terpejam dan berhasil lelap dengan nyenyak. Entah kenapa Ia baru menyadari hal itu ketika tontonan dibalik jendela menjadi tragedi pasti dikehidupannya. Seperti; kecelakaan yg menimpa Il Zaga, seorang fotografer freelance yg juga merupakan tunangannya. Di balik jendela itu dia pernah melihat Toyota Wish milik Il Zaga disulut api yg membara hingga jadi debu. Setengah jam ketika Lugaina terjaga dari tidurnya, dia mendapat telepon bahwa tunangannya meninggal karena tabrakan dengan truk gandeng. Mobilnya hancur, sedang tubuh Il Zaga utuh tanpa luka. Hanya nyawa yg pergi bersama ruh meninggalkan seonggok raga. Pernah juga, didepan jendela itu Lugaina menyaksikan sendiri tragedi mengenaskan yg menimpa kakak laki-lakinya yg bekerja di Dinas Intelijen Negara. Lugaina hanya menatap miris dan merutuki diri sendiri ketika melihat anjing pelacak milik kakaknya mencabik leher tuannya hingga meninggal. Tapi sampai saat ini kakaknya masih hidup dengan tenang. Dan hanya berkata ringan kepada adiknya ketika Lugaina menceritakan tentang hal itu. "Sepertinya kamu lupa berdo'a dan gosok gigi sebelum tidur". Memang tak ada yg mengerti dengan perasaan Lugaina tentang lorong hitam, jendela dan warna kelabu didalam dimensi tersebut. Dunia yg hanya ada ketika Ia memejam dengan pulas. ** Dari balik jendela transparan yg hanya ditutupi semacam selaput bening itulah Lugaina melihat dirinya sendiri dalam berbagai macam kejadian. Seperti menonton film dilayar yg sangat besar. Kadang Lugaina ingin masuk kesana, mengacaukan atau mengubah jalannya cerita. Tapi tetap, jendela itu tak dapat ditembus. Sering sebelum memasuki lorong gelap panjang yg membawanya ke dimensi tersebut, Lugaina menyiapkan benda-benda tajam semacam jarum atau pisau dapur dibalik bantalnya guna merobek selaput bening dijendela. Namun percuma, benda tersebut selalu tertinggal dan Lugaina akan menghadap ke jendela dengan tangan kosong serta perasaan was-was akan tragedi yg akan Ia saksikan selanjutnya. ** Angka-angka dialmanak terus berganti ketika Lugaina kini merasa biasa berdiri didepan jendela setiap malam, sebab tak selamanya tontotan dibalik jendela menyeramkan. Akhir-akhir ini Ia sering melihat dirinya berada di atas panggung Miss Indonesia sebagai salah satu finalis. Kadang berganti, Lugaina bahkan dapat merasakan bahagianya menjadi salah satu model pakaian hasil rancangan desainer dari New York Fashion School. Berkat mimpi-mimpi indh itu, Lugaina ingin cepat-cepat beristirahat lalu tertidur dengan nyenyak. Sebelum tidur, Ia yg biasa mengecek notification diakun twitter pribadi miliknya lebih memilih membaca makna tafsir Kitab Suci. Karena dengan begitu, matanya jadi lebih berat dan kelopaknya akan cepat mengatup. Bukankah iblis memang paling gemar nongkrong di atas kelopak mata orang-orang yg membaca kitab suci?? Jika sudah begitu, mulailah Lugaina menyusuri lorong hitam yg akan melemparkannya tepat didepan jendela dengan latar belakang berwarna abu-abu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini hanya ada kabut tebal yg dapat terlihat dibalik jendela. Lugaina menatap enggan kedalam pekatnya kabut. Sesaat kemudian, muncul percikan cahaya lampu pijar, cahaya yg membentuk kaki, kemudian tubuh. Iya, itu adalah cahaya yg menjelma sebagai manusia keluar menerobos lapisan kabut. "Demi Tuhan, benarkah?!" Lugaina membatin. Dia terperangah denan bongkahan bahagia yg meletup-letup. Seorang lelaki terus berjalan kerahnya sambil tersenyum ringan. Hingga ketika jarak mereka sekitar 30 jengkal, Lugaina mulai cemas. Tidak mungkin baginya untuk bisa bertemu dengan Il Zaga. Karena selama ini jendela transparan itu tak pernah mampu ditembus. Seperti itu, sebelumnya kematian Il Zaga adalah pembatas mutlak hubungan mereka didunia. Lalu sekarang, jendela transparan itu jadi sekat untuk Lugaina dapat hidup kembali dengan lelakinya. Lugaina tak berkedip ketika merasakan jemari Il Zaga meraih lengannya. Berhasil menembus sekat, keduanya berlari pada puncak bahagia. *** oleh: n o R a

Cerpen "Tentang Perempuan itu, Will. ."

Cerpen "Tentang Perempuan itu, Will. ."
Nora Permatasari, 11 April 2016


Saat aku menulis cerita ini, dalam keremangan yg senyap. Dua orang saling merangkul; Kali ini kau tak kuasa menahan air mata yg mengalir deras meski tak bersuara, dagumu seolah tenggelam jauh kedalam pundaknya. Tanpa berniat untuk membagi sakit, tapi luka dan sesak luruh dalam pelukannya. Widya, putramu juga sama. Aku bahkan terenyuh sangat, melihat pemuda itu sesenggukan di belakang kepalamu. Palung matanya memproduksi ratusan kubik air yg menerobos jendela matanya yg selama ini kau lihat kaku. Entah apa yg ada dipikiran bocah yg kini telah beranjak dewasa itu. Aku yakin, dia tak seangkuh bapaknya. Dia menangis bukan karena Ia anakmu yg minta dibelikan mainan baru, tapi dia ingin menjadi lelaki. ** Biar kuceritakan padamu Will, sedikit tentang perempuan itu. Antara kau dan Tuhan, dia menaruh cinta dan rasa malu yg hampir sederajat. Dia mencintaimu, sebab itu dia memperjuangkanmu sedemikian kerasnya. Wajar jika kamu tak tahu tentang hal ini. Karena baginya tidaklah begitu penting menceritakan prahara yg Ia hadapi kepada seorang putra. Bukan tentang beratnya mengandung, sakitnya melahirkan, atau sederet peran kepahlawanan yg lazim dilakoni sebagai ibu. Dia berbeda Will! Widya, ibumu itu; kehilangan hampir separuh hidupnya hanya untuk melihat kau hidup dengan baik. Selain mencintaimu, dia juga menyimpan malu. Takut jika aibnya 22 tahun yg lalu terkuak dan mendarat ditelingamu. "Tak apa kutanggung dosa didunia dan akhirat, sebagai tebusan untuk bayiku." begitu do'anya lirih pada sujud terakhir. Saat itu kau masih dalam kandungan. Sama seperti padamu. Dia mencintai-NYA tapi malu untuk menyapa-NYA. Jangan heran jika kau tak pernah melihat ibumu sholat, meski dia pandai mengajarimu menghafal surah pendek semasa kau masih belajar mengeja. Sebelum suaminya membelenggu peraturan ketat dan memberi jarak antara ibu dan anak. "Aku bukanlah Saidah Maryam, perempuan yg ditiupkan bayi Isa Al Masih oleh malaikat Jibril kedalam rahimnya atas firman Allah. Dia dan putranya dilindungi, sedang aku?" Kau tak menyaksikan Will, ketika dia berkata demikian kepadaku dengan wajah pucat dan tegang serta tatapan berisi beban yg sudah menumpuk disekujur tubuhnya. Maaf jika aku harus menceritakan hal ini kepadamu. Widya, ibumu itu hanyalah seorang perempuan lugu yg terpaut cinta seorang pria beristri. Pria yg secara fisik berperawakan hampir sempurna itu juga jatuh hati dengan sungguh kepada ibumu. Pun dia nekat meminang Widya secara diam-diam dari keluarganya dan publik. Mereka menikah diatas kapal pesiar miliknya 3 bulan setelah Ia meletuskan sperma kedalam rahim Ibumu. Tentu setelah memastikan bahwa kertas testpeck yg dicelupkan kedalam urine ibumu berwarna merah kedua garisnya. Tanpa segan, sesaat setelah menikah, dia membawa ibumu ke rumahnya, mengenalkannya kepada keluarga besar Kimtara. Sekaligus nama Ibumu dicoret dari keluarganya, sebab telah mencoreng nama baik keluarga. "Ini Widya, istriku. Yang memberikan untuk kita seorang penerus Kimtara" Ucapnya dengan bangga. Ibumu bahagia sesaat Will, mereka semua ramah akan kehadirannya dirumah itu. Terlebih saat engkau pertama kali melihat dunia, keluar dari selaput yg menjagamu selama 9 bulan 10 hari. Keluarga Kimtara seolah mendapat sesuatu yg berharga. "Willhan Anshori" Usul Ibumu memberi nama. "Tidak, Wildan Kimtara. Dia adalah penerus Kimtara Group." Sejak saat itu, usulan ibumu hanya seperti bantahan yg membuat murka pria itu. Dia tak lagi menghiraukan cintanya kepada Widya. "Andai Tuhan tak mau maafkanku, biarlah aku menjadi buah laknat. Tapi, siapa yg akan menjaga putraku? Dia bukan Isa Al Masih putra Maryam yg dijaga oleh Rohul Kudus." Lagi-lagi ibumu berbisik lirih saat hendak menggelar sajadah-yg segera Ia batalkan karena malu menduduki kain itu. Dia masih, tetap mencintai Tuhannya. Tapi malu akan nafsu yg tak mampu Ia jaga saat bersama bapakmu dulu. ** Will, mungkin kau tahu hal ini, tapi kau cuek saja karena mendengar alasan bapakmu "Ini untuk kepentingan administrasi saja". Saat engkau berumur 30 hari, dia dan keluarga besar Kimtara memang telah sepakat memalsukan nama ibumu di akte kelahiran dengan nama istri pertamanya, yang sah dimata agama, juga dimata hukum. Ibumu tahu, tentu kau tidak akan bisa merasakan betapa parahnya luka yg Ia pendam saat itu. Kau juga mungkin tak perduli Will, saat kau berusia 11 tahun, harus menempuh pendidikan di Madrid, berpisah dengan Ibumu hingga sekarang kau baru kembali. Widya, ibumu itu telah melalui tahap demi fase ragam sakit hidup sebagai istri simpanan Hadi Kimtara, seorang yg menduduki angka ke-4 sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara. Tentu kau tak heran, Will. Beberapa jam yg lalu, saat pengukuhanmu sebagai pewaris utuh Kumtara group, perempuan itu tak kau lihat hadir didalam pesta yg memakan biaya hampir 9 miliyar. Tapi jangan heran juga, saat kau mencari, malah mendapati Ibumu sedang meneguk wine. Dan pria itu tertawa geli melihatnya jatuh tersungkur karena telah kehilangan akal sehatnya didepanmu. *** by: N o r a

Cerpen Picisan Menjelang 36 Bulan

Picisan Menjelang 36 Bulan


Nora Permatasari, 5 April 2016


Hari ini aku ingin kita bicara secara santai tapi tetap focus, yaa. . Memang belum genap 36 bulan. 2 hari lagi, kan? Atau lupa? Bukan, bukan sejak pertama kenal. Tapi sejak pertama ketemu. Apa kamu mau minum teh dulu? Air putih? Atau kacang goreng? Ah iya, bahkan sampai sekarang aku tidak tahu makanan favoritmu apa. Keep rilex, gak usah tegang gitu. Aku aja sambil uring-uringan gini. Memang kita tak pernah bicara sedekat ini, wajar jika kamu agak canggung. Tapi kembali, bukankah kau adalah bagian dari aku, eh bukan ya. Tapi kau adalah milikku. Dia yg memberikannya. Buktinya, namanya saja ditulis rapi dipunggungmu. Dengan cat warna emas. Cantik. Sebagai permulaan, aku mau tanya sesuatu. Apakah kau mengenalinya dengan baik? Tuanmu itu maksudku. Ya,ya, . . Aku tau kamu tidak bisa menjawab secara langsung sekarang. Sebab kamu butuh waktu untuk menetralisir keadaan. ** 07 April '13. . Sore yg basah dengan jiwa yg penat. Letih, hari itu rombongan kelompok kami baru saja tiba dikos, alias rumah sewaan untuk 2 minggu kami tinggali selama menjalankan praktik klinik keperawatan yg terakhir. Seiring dengan kegiatanku yg tengah ber'smsan ria dengan seseorang yg kukenal beberapa bulan yg lalu, dia mengirimi pesan yg isinya akan datang menemuiku dan menepati janjinya dulu. Setelah memberitahu alamat, kita sepakat ketemu sore itu juga. Dengan lelah yg masih melanda, aku pun bergegas keluar untuk menunggu. Tanpa persiapan apa2, toh kita hanya sebatas teman kan? Lagipula menurutku, tak perlu rumitlah untuk sekedar bertemu. Meskipun itu adalah yg pertama. Gerimis masih berjatuhan, terus merintiki Samawa. Aku tak punya alasan untuk berteduh, sebab aku menyukainya. Hanya beberapa langkah dari kos, aku pun berdiri didepang gang. Itu jalan Mawar atau jalan Melati, entahlah. Aku terpaku didepan Kantor Rasesa.fm, tepat didepan plang papan nama seorang notaris. Didepanku, ada pertigaan. Nengok kiri, nengok kanan, melihat ke depan. Beruntung sore itu sepi, jadi aku tak perlu pasang pose sibuk sendiri untuk menutup malu. "Bentar lagi, ini baru selesai cukur rambut" Katanya lewat pesan singkat. Sebenarnya terselip rasa ragu, beberapa menit menunggu, terasa 1 jam. Memang membosankan. Setiap ada yg lewat, aku main tebak-tebakan sama otakku. Bukan dia. Ada lagi, eh bukan juga. . Dari pembelokan di ujung jalan sebelah kiri (kalau gk salah), muncul motor tedededet. Insting serta merta menyetujui. Jiyai, itu dia! Seett, sontak aku melempar pandangan ke arah lain. Motor itu berhenti, jari tangan langsung dingin (iyalah, kan lagi ujan :-D). Terus, apa ya? Lupa, aku atau dia yg nyapa duluan. Aku senyum, memaksa untuk senyum semanis mungkin (menutupi muka yg kumel, kan gak mandi, hihi). Gak lama, dia buka ranselnya, langsung ngeluarin kresek hitam. Disodorin ke aku Apaan nih? "Itu yg kakak janjiin." (well, aku gak ingat banyak percakapan kita) :-| cuma berapa menit ya, dia langsung pamit pergi setelah mengusirku kembali ke kos. Jadi, isi kresek hitam itu bantal pipih (sebutlah boneka) dengan warna biru putih, ada kumisnya dipipi, mulutnya merah. Tapi yg ini gk ada baling" bambunya. Mungkin kececeran di Meno. Haha, maaf,maaf. Dibagian punggung Si 'Pi_Emon' ada tulisan tangan dengan cat warna emas 'Kak (. . . )'. ** Bagaimana, sudah ingat kejadian itu? Pertama kita ketemu, kenalan. Sampai sekarang masih bersama. Meskipun Tuanmu mungkin sudah lupa sama kita. Ayolah, sekarang giliran kau yg ngomong. Ceritakan padaku tentang Tuan lamamu. Sebab kau tau sendiri, sampai sekarang aku tak mengenalinya. *** Dihari Ahad yg basah, pertama kali kita bertatap wajah. ~ Note: Ini hanya sekedar untuk mengenang. :-):-)

Cerpen Aku Menunggumu, Tuan Muda

Cerpen "Aku Menunggumu, Tuan Muda. ."

Nora Permatasasi, 30 Maret 2016

Sekarang sudah masuk musim dingin. Aku mendapati diriku berada disebuah negeri yg bersalju. Hanya karena sebuah penantian, aku bahkan bisa menjejaki tanah Joseon (Korea). Masih di atas kapal Reiner, dengan butiran2 halus yg berjatuhan, dengan gigil yg kerap kali menggigit, aku tak kenal menyerah. Malah, bulan2 sebelumnya telah kulalui badai yg dihadirkan musim. Sebab dia berjanji akan menemuiku disini, di dek kapal Reiner. Aku menunggu, layaknya seorang gadis yg berani menjatuhkan hati. ** Sebut saja aku, wanita yg hidup disisa malam. Waktu itu, aku hendak pulang sebab fajar mulai datang. Warna merah mulai bertandang diufuk sana. Saat itulah, seseorang datang menemuiku dengan tergesa. Seorang lelaki yg tubuhnya tersusun dari serpihan kering daun anggur dimusim panas. "Berikan aku secangkir kopi!" Bibirnya bergetar. Meski terbuat dari daun kering, dia punya bola mata yg jernih dengan tatapan hangat. "Setidaknya kafein bisa membuatku bertahan untuk beberapa jam kedepan" Ujarnya lagi semakin gelisah. Aku sadar, dia sedang membutuhkan pertolongan. Bias jingga dan hamparan biru bergandengan dilangit lepas, aku pun ikut cemas dan memutuskan untuk tidak menolongnya. Alasan lain karena aku tak punya kopi. Aku bergegas pergi sebelum menjadi sirna oleh matahari. Malam berikutnya, aku kembali ke danau Anara, tetap sebagai molekul air yg rentan pecah. Tapi aku selalu berdo'a agar menjadi embun yg abadi. Kali ini kuseduh 2 cangkir teh. Entah kenapa firasatku kuat bahwa lelaki itu akan kembali. Benar, dia datang lagi. Dengan tenang duduk disampingku, diatas daun teratai muda, dengan kaki bergelantungan kedalam air dini hari yg membuat kuyup kaki2 kita. "Sepertinya teh dengan sedikit ekstrak mint cukup menyenangkan." Dia melirik, lalu mengambil salah satu cangkir teh yg tersaji. Aku mencoba lebih akrab. "Bagaimana aku harus memanggilmu?" "Terserah kau saja. Bagiku nama hanya sekedar kiasan. Tak begitu penting untuk harus memiliki sebuah panggilan." Dia tersenyum ramah. "Aroma mintnya kuat, aku merasa nyawaku bertambah satu lagi, setelah pertama karena bertemu denganmu." Aku hanya terkekeh. "Dengan apa aku bisa menggantikan teh dan pertemuan malam ini?" Sambungnya dengan lirih. "Lakukan saja apa yg menurutmu baik, Tuan muda. ." "Baiklah, jika kau tidak keberatan, dihari pergantian cuaca ada kapal yg akan berlayar ke Alaska. Aku akan menemuimu disana." Kalimat itu begitu meyakinkan, meski aku tahu pergantian cuaca yg terjadi di pagi hari akan sangat beresiko untukku. ** Hujan musim semi mulai berjatuhan. Aku telah berdiri didek belakang kapal Reiner yg terbuka. Dengan 2 cangkir teh tentunya. Waktu berselang, jarum jam sudah miliaran kali kulihat saling berpelukan. Tapi, dia tak datang. Apakah firasatku kala itu keliru? Tidak, sejak dulu firasatku tak pernah salah. Dia pasti datang menepati janji! Tuan muda, kapal Reiner sebentar lagi akan tiba diAlaska. Kapan kau kan datang? Taukah kau, bahwa aku telah memimpikannya dgn sempurna. Tentang pagi, siang, dan malam yg akan kita lewati bersama. Tentang kecutnya teh yg berplesir diujung lidah, perlahan. Sambil melambai kearah burung yg mengejar senja. Atau menyapa angsa salju yg duduk diperairan Alaska. Kau akan datang kan, Tuan Muda? Ah iya, "Kenapa kau tak hidup di waktu pagi? Apa yg kau takutkan? Matahari, angin kencang, atau kertas tisyu? Percayalah ketakutan hanya perasaan yg tak berguna." Begitu katamu, juga kaulah yg menanggalkan rasa takut yg sejak dulu melilitku. Tapi Tuan Muda, kau juga yg kini memunculkan rasa takut yg baru. Apalah aku, seorang wanita yg akan tetap menunggumu. Maka, datanglah. Sebagai ranting pohon sentigi atau akar mahoni. Tapi tolong jangan datang bersama malaikat maut. Aku tak ingin cerita ini berakhir dengan ajal yg tanpa permisi menjemput salah satu diantara kita. Lalu kapan kau akan datang? Lihatlah, detak2 kini tak lagi beraturan. Jika ada manusia yg paling cemas dari antah berantah manapun, itu aku. Aku menunggu, tak perduli kau akan dtang sebagai remah2 ikan halibut, atau kaleng bekas dipinggir laut, atau sebagai kotoran dolpin betina pun aku terima. ** Genap disatu tahun penantianku, kulihat sosok manusia kabut berlari dgn tergesa. Bahkan aku masih hafal derap langkahnya. "Kuharap belum terlambat." Tapi sedetik kemudian, dia jatuh berlutut. Menatap sedih pada jejak setengah basah didek kapal yg berwarna cokelat. Pundaknya naik turun, ombak kecil melompat dari kedua matanya. 136 detik yg lalu, ketika lelaki itu belum tiba, ketika langit berwarna biru terang. Sebuah cahaya merah berbentuk busur menghantam tubuhku. Tanpa bertanya apa2, nyawaku direnggut. Dan akhirnya engkau datang Tuan muda. ** Aku melihat lelaki itu menutup jejak yg hampir mengering dengan selembar pucuk daun teh. Setangkai kecil melati jadi nisan, lalu menulis dengan getah anggrek bulan "wanitaku, jika ada sesuatu yg bersembunyg dibalik rasa. Mengertilah bahwa itu adalah masa depan yg tak sempat kulapalkan". *** oleh: AKU ~Nora~

berteriak, menjauhlah. ! Dia tetap tak bergeming. . Haus mencekat kerongkongan. . Diam-diam kulihat ada telaga dimatanya. . Didalam bening yg berair. . Bukan kolam susu, tapi genangan yg tiba" muncul. Aku tak peduli. . Sebab yg kutunggu perlahan disingkirkan oleh dia. Ketika itu, . Ketika semuanya hening. . Hingga tak ada apa" yg membekas, tidak Kau atau dia. .

Cerpen "Lelaki yg dibawa Pergi oleh Senja"

Cerpen "Lelaki yg dibawa Pergi oleh Senja"

nora permatasari 16 maret 2016


"Tunggu. . !" Lyla telah berlari sejauh-jauhnya. Mengejar sosok diujung jalan -yg tak pernah mampu dia susul. "Sedikit lagi. ." Tapi Lyla sudah merasa sangat lelah. Dan hanya menatap pasrah pada siluet yg hendak hilang. "Aku ingin ikut denganmu, tunggu. !" Lagi, Lyla berteriak dengan sisa tenaga. Meski yg terdengar hanya seperti bisikan lirih yg sangat lemah. Lelaki itu menoleh. Dia berdiri beberapa centi dari garis fatamorgana. Garis berwarna hitam yg terlihat seperti air. Jika lelaki itu melintasinya, maka Ia akan menghilang seperti biasa-pergi entah kemana. Bersamaan dengan tenggelamnya koin raksasa berwarna kuning keemasan yg terbentang megah tepat dibalik punggungnya. "Sungguh, kali ini aku mohon. . ." Lyla berlutut diaspal-tanpa melepas pandangan pada lelaki itu. Dari tempatnya, Lyla melihat lelaki itu melingkarkan kedua tangan dibibir, membentuk corong. Dia berteriak, tapi seperti sebelumnya, Lyla tak dapat mendengar apa-apa. Hanya hembusan angin yg menghempas pasir gurun dipinggir jalan. Matahari bundar berwarna kuning tinggal seperdua. Lelaki itu masih mematung disana. Seolah Ia juga mengharap Lyla berdiri dihadapannya. Tapi Dia maupun Lyla tak dapat saling mengejar satu sama lain. Pertama-tama, lelaki itu mengangkat jari kelingking dan ibu jari tangan kanannya. Kemudian jari telunjuk dan ibu jari membentuk siku" di udara. Disusul jari tengah dan telunjuk yg mengarah ke bawah, selanjutnya jari kelingking yg berdiri sendiri. Terakhir, telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran dengan ketiga sisanya berdiri tegak. Semua itu berganti dengan cepat. Lyla tersenyum tipis. Kode itu pernah diajarkan oleh Dokter Kenzo. Biasa digunakan ketika Lyla enggan berkomunikasi via oral. Lyla biasa menyebutnya dengan trik psychotherapy Kenzo. "Bagaimanapun keadaannya, kita adalah satu. Aku percaya hari itu ada, aku dan kamu akan berdiri dan berjalan bersama. Berjanjilah untuk tetap baik2 saja. Kekuatan hati itu seperti angka 0, melingkar utuh tanpa jeda!" Lyla bergumam, menerjemahkan kode itu dengan yakin. Sesaat kemudian, lelaki itu memutar tubuh. Berjalan melanjutkan langkah, dengan gagah dan pasti. Tepat saat pandangan Lyla menjadi kosong, ketika lelaki itu telah lenyap, bersama senja yg menyisakan warna kemerahan. "Lyla. !" Seseorang memanggilnya, suara sepatu terhenti beberapa langkah dibelakang Lyla. "Kamu bermain terlalu jauh hari ini." Lyla tak menjawab. Tubuhnya masih terduduk diatas aspal hitam. "Kembalilah. ." "Tidak!" "Kamu masih marah?" "Aku sudah tidak mempermasalahkan tentang itu!" Nada dingin terlontar, Lyla tak membalas uluran tangan Dokter Kenzo yg mengajaknya pulang. "Lalu apa yg harus aku lakukan sekarang? Memetik bintang? Sayang, aku bukan Tuhan. " Jelas Dokter Kenzo tetap lembut. Psikolog muda itu masih merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi permintaan Lyla. "Aku mau kamu mencuri senja itu. Lalu gantung dilangit2 kamar, kunci pintu rapat2, agar dia tidak lari!" Bisik Lyla suatu sore ketika mereka menikmati senja ditempat itu. Kala itu, Dokter Kenzo merasa telah gagal menjadi suami bagi Lyla. Wanita berusia 20 tahun yg Ia nikahi 7 bulan yg lalu banyak menghabiskan waktu bersama imajinasi. Jangankan mengambil senja, untuk menjelaskan apa itu senja saja Dokter Kenzo hanya akan berkata singkat "Sunset"-matahari tenggelam. Sedikit menyesal, tak memiliki naluri tentang hal2 seperti itu. Senja telah mengalahkan cinta Lyla kepada Dokter Kenzo. Bahkan jauh sebelum mengenal Dokter Kenzo, cinta pertama Lyla adalah senja-bisa jadi. "Dokter, aku ingin kesana. Aku ingin pergi bersama dia." Lyla berujar dengan nada cemas. Keinginannya seperti ketakutan yg harus segera dituntaskan. "Dia siapa?" "Dia, lelaki yg baru saja pergi. Aku yakin, dia pasti menungguku disana, tapi. . ." Dokter Kenzo terhenyak. Imajinasi liar sang istri menggeser keberadaannya. "Tapi dia masih belum mau menjemputku. ." Lyla menggeleng sambil sesenggukan. "Kau tahu, tadi sebelum pergi dia memberiku pesan. Aku juga melihat dengan jelas didalam senja yg sepotong itu, disana ada aku dan dia. ." "Lyla, tak ada apa2 didalam senja, tidak ada kehidupan disana. !" "Apa?! Kau akan bilang senja itu hanya seperti labirin raksasa, ruang hampa berwarna kuning, yg tak berarti, hah?" Cecar Lyla dengan hasil fantasinya lagi. "Dia pasti kesepian disana. Seharusnya hari ini aku tak boleh kehilangan dia. Kita akan tidur didalam senja, minum teh bersama." Sambung Lyla bernada retoris. Dokter Kenzo gamang, Ia tidak menyangka imanjinasi Lyla sejauh itu, tersesat begitu lama. Pria itu menatap dalam kedua mata bening milik Lyla. Hingga wanita itu dapat melihat pertama kali ada air yang menggenang disana. Membentuk binar2 pada bolanya yg berwarna cokelat. "Aku akan mengambil senja itu untukmu. Membawa lelaki itu, dan. . Kau siapkan saja dua cangkir teh. ." Suaranya bergetar, Dokter Kenzo berdiri, berjalan pergi kearah hilangnya senja. Dia melangkah dengan gagah, dengan pasti. Diujung jalan, dia hilang. . . *** oleh: Perii Biru (Nra_Nra) 

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...