Sunday, November 12, 2017

Cerpen 'Sang Detektif'

Nora Permatasari, 18 April 2016


"Perfect!" Lelaki berusia 30 tahun bergumam sambil tersenyum lebar didepan cermin. Lengan kemeja berwarna hitam dilipat menjadi seperempat. Selanjutnya dia beralih ke gantungan baju lalu mengambil jaket berwarna ungu tua. Dibalik jaket lapuk kesayangannya itu, tak lupa diselipkan pistol magnum 4.4 yg disisakan sebiji peluru hanya untuk satu orang yg beruntung. Ya, beruntung dijemput ajal lewat bantuan sang detektif. Im Dante, begitu orang-orang memanggilnya. Setelah menyiapkan segalanya dengan sempurna; termasuk permen karet si teman setia, dia keluar dari apartemennya dengan yakin. Menemui bos besar mafia morfin yg katanya siap meninggalkan negeri ini dan berhenti mengedarkan racun propellent untuk pengusaha rokok ilegal. Tentu Im Dante tak kan percaya begitu saja, maka setelah menerima surat rahasia yg ditulis dengan air jeruk nipis dari David Van kemarin, Im Dante bertekad kali ini tak boleh gagal. Inspektur Han sangat mempercayai final kasus ini kepada Im Dante, meski komrad yg lain menganggap Im Dante hanya seorang detektif partikelir kacangan. Inilah kesempatan untuk Im Dante membuktikan bahwa dia mampu mendepak tuntas David Van beserta agen-agennya. Sebenarnya, tak ada yg dapat diragukan dari kerja seorang Im Dante. Sebab sudah banyak kasus yg berhasil terungkap olehnya. Seperti: tewasnya seorang jaksa karena keracunan disebuah hotel bintang lima, meninggalnya adik Inspektur Han karena racun serangga yg dioleskan dibatang rokoknya, dan sederet kematian mengenaskan para petinggi negeri. Semuanya terkuak atas penelitian objektif dan insting kuat Im Dante yg mirip dengan insting anjing pelacak berjenis dorsmen. Tepat pukul sepuluh pagi, Im Dante menaiki bus kota yg akan mengantarkannya ke jalan Pertiwi, sepuluh meter dari Turkish Restaurant-tempat Ia akan menemui David Van. Dia sengaja menggunakan jasa angkutan umum sebab ingin duduk tenang tanpa harus berkonsentrasi untuk mengemudi. Fokusnya kali ini adalah untuk menjulangkan reputasi diri sebagai detektif partikelir yg tidak boleh dianggap remeh. Selain untuk menghargai kepercayaan Inspektur Han, juga demi Negara yg kesuciannya mulai ternodai oleh tangan-tangan pendatang. David Van, tak banyak yg dia tahu dari Pria yg menurut Inspektur Han berkepala mesin hidroponix itu. Selama ini dalang dari pembunuhan-pembunuhan yg terencana secara halus adalah David Van. Dinas Intelijen Negara masih gagal mengungkap keberadaannya. Tersangka dibalik pembunuhan yg merupakan agen David Van rela dieksekusi mati daripada membuka mulut. Itulah yg membuat Im Dante geram dan sangat bernafsu untuk mengincar bos besarnya. Im Dante memperbaiki posisi duduk lalu merogoh saku celananya dan siap mengunyah mesra permen karet. Seorang wanita yg duduk bersebelahan dengannya membuyarkan konsentrasi sang detektif. Im Dante memang selalu tergoda dengan wanita yg serius membaca buku. Entah kenapa, selalu ada daya tarik tersendiri dari wanita yg membaca buku. Benarlah kata detektif fiksi legendaris Sherlock Holmes, wanita adalah pengganggu. Meski wanita itu tak berniat untuk menggangunya, tetap saja Im Dante terpaksa mengunyah permen karet dengan gaya peristaltik agar mendapatkan kembali fokusnya. Tapi tunggu, instingnya yg kadang berupa ilham itu mensinyalkan bahwa wanita yg duduk disampingnya adalah komplotan David Van. "Ah, jangan khawatir. Aku memang akan menemuinya!" Ujar Im Dante sambil meludahi ampas permen keluar jendela. Wanita itu tak menggubris. ** Turkish Restaurant sudah didepan mata. Im Dante memang tak seperti Sherlock Holmes yg memiliki penglihatan setajam elang. Tapi ekor matanya tak pernah meleset menangkap gelagat agen David Van yg menyamar disekitar restaurant. Sebenarnya, Inspektur Han menyarankan agar Im Dante dikawali beberapa intel yg juga akan menyamar. Tapi dia menolak, karena ingin menemui musuh besarnya sebagai Imbara Dante yg berdiri diatas kekuatan sendiri. Turkish Restaurant menawarkan keramahan seperti biasa. Tapi selalu ada yg janggal di indra penciuman Im Dante yg bisa mencapai beberapa radius itu. Bahkan ditempat umum dan familiar seperti restaurant ini. Untuk mengindari jebakan, Im Dante tak mau memesan menu apa-apa. Malah berkata dingin kepada seorang waittress perempuan yg mengerlingkan mata. "Katakan, aku tak punya banyak waktu!". Menu daruratnya keluar, permen karet lagi-lagi jadi santapan favorit ketika diwaktu yg bersamaan muncul lelaki tua yg tersenyum ramah. "Kamu Dante, benar?" Garis wajah dan hidung besar lelaki itu memundurkan ingatan Im Dante jauh ke sembilan tahun yg lalu. "Sir Hugo??Haa, bagaimana mungkin?!" Tangkas Im Dante, tawa renyah keduanya pun pecah seraya merangkulkan bahu. Mereka pun berbincang sambil mengulas masa lalu. Sir Hugo adalah dosen fisika kuantum di Adelaide University-Australia. Seorang pria lajang yg ramah, sekaligus menjadi teman akrab Im Dante semasa studi-nya di Adelaide. Tapi dibalik itu semua, insting Im Dante bergelora bahwa Sir Hugo adalah David Van yg mengubah identitas. *** oleh: N o r a

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...