Nora Permatasari, 18 April 2016
"Perfect!"
Lelaki berusia 30 tahun bergumam sambil tersenyum lebar didepan cermin. Lengan
kemeja berwarna hitam dilipat menjadi seperempat. Selanjutnya dia beralih ke
gantungan baju lalu mengambil jaket berwarna ungu tua. Dibalik jaket lapuk
kesayangannya itu, tak lupa diselipkan pistol magnum 4.4 yg disisakan sebiji
peluru hanya untuk satu orang yg beruntung. Ya, beruntung dijemput ajal lewat
bantuan sang detektif. Im Dante, begitu orang-orang memanggilnya. Setelah
menyiapkan segalanya dengan sempurna; termasuk permen karet si teman setia, dia
keluar dari apartemennya dengan yakin. Menemui bos besar mafia morfin yg
katanya siap meninggalkan negeri ini dan berhenti mengedarkan racun propellent
untuk pengusaha rokok ilegal. Tentu Im Dante tak kan percaya begitu saja, maka
setelah menerima surat rahasia yg ditulis dengan air jeruk nipis dari David Van
kemarin, Im Dante bertekad kali ini tak boleh gagal. Inspektur Han sangat
mempercayai final kasus ini kepada Im Dante, meski komrad yg lain menganggap Im
Dante hanya seorang detektif partikelir kacangan. Inilah kesempatan untuk Im
Dante membuktikan bahwa dia mampu mendepak tuntas David Van beserta agen-agennya.
Sebenarnya, tak ada yg dapat diragukan dari kerja seorang Im Dante. Sebab sudah
banyak kasus yg berhasil terungkap olehnya. Seperti: tewasnya seorang jaksa
karena keracunan disebuah hotel bintang lima, meninggalnya adik Inspektur Han
karena racun serangga yg dioleskan dibatang rokoknya, dan sederet kematian
mengenaskan para petinggi negeri. Semuanya terkuak atas penelitian objektif dan
insting kuat Im Dante yg mirip dengan insting anjing pelacak berjenis dorsmen.
Tepat pukul sepuluh pagi, Im Dante menaiki bus kota yg akan mengantarkannya ke
jalan Pertiwi, sepuluh meter dari Turkish Restaurant-tempat Ia akan menemui
David Van. Dia sengaja menggunakan jasa angkutan umum sebab ingin duduk tenang
tanpa harus berkonsentrasi untuk mengemudi. Fokusnya kali ini adalah untuk
menjulangkan reputasi diri sebagai detektif partikelir yg tidak boleh dianggap
remeh. Selain untuk menghargai kepercayaan Inspektur Han, juga demi Negara yg
kesuciannya mulai ternodai oleh tangan-tangan pendatang. David Van, tak banyak
yg dia tahu dari Pria yg menurut Inspektur Han berkepala mesin hidroponix itu.
Selama ini dalang dari pembunuhan-pembunuhan yg terencana secara halus adalah
David Van. Dinas Intelijen Negara masih gagal mengungkap keberadaannya.
Tersangka dibalik pembunuhan yg merupakan agen David Van rela dieksekusi mati
daripada membuka mulut. Itulah yg membuat Im Dante geram dan sangat bernafsu
untuk mengincar bos besarnya. Im Dante memperbaiki posisi duduk lalu merogoh
saku celananya dan siap mengunyah mesra permen karet. Seorang wanita yg duduk
bersebelahan dengannya membuyarkan konsentrasi sang detektif. Im Dante memang
selalu tergoda dengan wanita yg serius membaca buku. Entah kenapa, selalu ada
daya tarik tersendiri dari wanita yg membaca buku. Benarlah kata detektif fiksi
legendaris Sherlock Holmes, wanita adalah pengganggu. Meski wanita itu tak
berniat untuk menggangunya, tetap saja Im Dante terpaksa mengunyah permen karet
dengan gaya peristaltik agar mendapatkan kembali fokusnya. Tapi tunggu,
instingnya yg kadang berupa ilham itu mensinyalkan bahwa wanita yg duduk
disampingnya adalah komplotan David Van. "Ah, jangan khawatir. Aku memang
akan menemuinya!" Ujar Im Dante sambil meludahi ampas permen keluar
jendela. Wanita itu tak menggubris. ** Turkish Restaurant sudah didepan mata.
Im Dante memang tak seperti Sherlock Holmes yg memiliki penglihatan setajam
elang. Tapi ekor matanya tak pernah meleset menangkap gelagat agen David Van yg
menyamar disekitar restaurant. Sebenarnya, Inspektur Han menyarankan agar Im
Dante dikawali beberapa intel yg juga akan menyamar. Tapi dia menolak, karena
ingin menemui musuh besarnya sebagai Imbara Dante yg berdiri diatas kekuatan
sendiri. Turkish Restaurant menawarkan keramahan seperti biasa. Tapi selalu ada
yg janggal di indra penciuman Im Dante yg bisa mencapai beberapa radius itu.
Bahkan ditempat umum dan familiar seperti restaurant ini. Untuk mengindari
jebakan, Im Dante tak mau memesan menu apa-apa. Malah berkata dingin kepada
seorang waittress perempuan yg mengerlingkan mata. "Katakan, aku tak punya
banyak waktu!". Menu daruratnya keluar, permen karet lagi-lagi jadi
santapan favorit ketika diwaktu yg bersamaan muncul lelaki tua yg tersenyum
ramah. "Kamu Dante, benar?" Garis wajah dan hidung besar lelaki itu
memundurkan ingatan Im Dante jauh ke sembilan tahun yg lalu. "Sir
Hugo??Haa, bagaimana mungkin?!" Tangkas Im Dante, tawa renyah keduanya pun
pecah seraya merangkulkan bahu. Mereka pun berbincang sambil mengulas masa
lalu. Sir Hugo adalah dosen fisika kuantum di Adelaide University-Australia.
Seorang pria lajang yg ramah, sekaligus menjadi teman akrab Im Dante semasa
studi-nya di Adelaide. Tapi dibalik itu semua, insting Im Dante bergelora bahwa
Sir Hugo adalah David Van yg mengubah identitas. *** oleh: N o r a
No comments:
Post a Comment