Cerpen " Jendela
Dimensi Kelabu"
Nora Permatasari, 15 April 2016
Kali ini pemandangan
dibalik jendela itu dapat terlihat dengan jelas. Meski tetap dengan latar
belakangnya yg berwarna kelabu, namun manusia yg ada didalamnya tidak lagi
seperti gambar berlensa buram. Seorang gadis kecil berusia sekitar 4 tahun
menggelendot dikaki ibunya. Dia berteriak-teriak cadel sambil mengusap
hidungnya yg mengalirkan ingus. Wajah manis dan lucu tertutup debu yg menghitam
karena bercampur dengan air mata. Sekali lagi sang Ibu mencubit pinggang
putrinya hingga anak itu berjingkat menahan nyeri. Tangisnya mendadak keras dan
semakin menjadi-jadi. Sedang didepan jendela, Lugaina, seorang gadis muda,
model terkenal nan cerdas berteriak histeris. Tak pernah ada dalam bayangannya
menjadi seorang Ibu dari anak yg kumel dan susah diatur. "Celaka! Tidak
boleh seperti itu." Lugaina menarik napas panjang sambil meraba botol air
mineralnya. Dia sedikit lega sebab berhasil enyah dari depan jendela sebelum
mencapai adegan berikutnya. Sebenarnya, Lugaina berada didepan jendela itu
setiap dia terpejam dan berhasil lelap dengan nyenyak. Entah kenapa Ia baru
menyadari hal itu ketika tontonan dibalik jendela menjadi tragedi pasti
dikehidupannya. Seperti; kecelakaan yg menimpa Il Zaga, seorang fotografer
freelance yg juga merupakan tunangannya. Di balik jendela itu dia pernah
melihat Toyota Wish milik Il Zaga disulut api yg membara hingga jadi debu.
Setengah jam ketika Lugaina terjaga dari tidurnya, dia mendapat telepon bahwa
tunangannya meninggal karena tabrakan dengan truk gandeng. Mobilnya hancur,
sedang tubuh Il Zaga utuh tanpa luka. Hanya nyawa yg pergi bersama ruh
meninggalkan seonggok raga. Pernah juga, didepan jendela itu Lugaina menyaksikan
sendiri tragedi mengenaskan yg menimpa kakak laki-lakinya yg bekerja di Dinas
Intelijen Negara. Lugaina hanya menatap miris dan merutuki diri sendiri ketika
melihat anjing pelacak milik kakaknya mencabik leher tuannya hingga meninggal.
Tapi sampai saat ini kakaknya masih hidup dengan tenang. Dan hanya berkata
ringan kepada adiknya ketika Lugaina menceritakan tentang hal itu.
"Sepertinya kamu lupa berdo'a dan gosok gigi sebelum tidur". Memang
tak ada yg mengerti dengan perasaan Lugaina tentang lorong hitam, jendela dan
warna kelabu didalam dimensi tersebut. Dunia yg hanya ada ketika Ia memejam
dengan pulas. ** Dari balik jendela transparan yg hanya ditutupi semacam
selaput bening itulah Lugaina melihat dirinya sendiri dalam berbagai macam
kejadian. Seperti menonton film dilayar yg sangat besar. Kadang Lugaina ingin
masuk kesana, mengacaukan atau mengubah jalannya cerita. Tapi tetap, jendela
itu tak dapat ditembus. Sering sebelum memasuki lorong gelap panjang yg
membawanya ke dimensi tersebut, Lugaina menyiapkan benda-benda tajam semacam
jarum atau pisau dapur dibalik bantalnya guna merobek selaput bening dijendela.
Namun percuma, benda tersebut selalu tertinggal dan Lugaina akan menghadap ke
jendela dengan tangan kosong serta perasaan was-was akan tragedi yg akan Ia
saksikan selanjutnya. ** Angka-angka dialmanak terus berganti ketika Lugaina
kini merasa biasa berdiri didepan jendela setiap malam, sebab tak selamanya
tontotan dibalik jendela menyeramkan. Akhir-akhir ini Ia sering melihat dirinya
berada di atas panggung Miss Indonesia sebagai salah satu finalis. Kadang
berganti, Lugaina bahkan dapat merasakan bahagianya menjadi salah satu model
pakaian hasil rancangan desainer dari New York Fashion School. Berkat
mimpi-mimpi indh itu, Lugaina ingin cepat-cepat beristirahat lalu tertidur
dengan nyenyak. Sebelum tidur, Ia yg biasa mengecek notification diakun twitter
pribadi miliknya lebih memilih membaca makna tafsir Kitab Suci. Karena dengan
begitu, matanya jadi lebih berat dan kelopaknya akan cepat mengatup. Bukankah
iblis memang paling gemar nongkrong di atas kelopak mata orang-orang yg membaca
kitab suci?? Jika sudah begitu, mulailah Lugaina menyusuri lorong hitam yg akan
melemparkannya tepat didepan jendela dengan latar belakang berwarna abu-abu.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini hanya ada kabut tebal yg dapat terlihat
dibalik jendela. Lugaina menatap enggan kedalam pekatnya kabut. Sesaat
kemudian, muncul percikan cahaya lampu pijar, cahaya yg membentuk kaki,
kemudian tubuh. Iya, itu adalah cahaya yg menjelma sebagai manusia keluar
menerobos lapisan kabut. "Demi Tuhan, benarkah?!" Lugaina membatin.
Dia terperangah denan bongkahan bahagia yg meletup-letup. Seorang lelaki terus
berjalan kerahnya sambil tersenyum ringan. Hingga ketika jarak mereka sekitar
30 jengkal, Lugaina mulai cemas. Tidak mungkin baginya untuk bisa bertemu
dengan Il Zaga. Karena selama ini jendela transparan itu tak pernah mampu
ditembus. Seperti itu, sebelumnya kematian Il Zaga adalah pembatas mutlak
hubungan mereka didunia. Lalu sekarang, jendela transparan itu jadi sekat untuk
Lugaina dapat hidup kembali dengan lelakinya. Lugaina tak berkedip ketika
merasakan jemari Il Zaga meraih lengannya. Berhasil menembus sekat, keduanya
berlari pada puncak bahagia. *** oleh: n o R a
No comments:
Post a Comment