Sunday, November 12, 2017

Cerpen " Jendela Dimensi Kelabu"

Cerpen " Jendela Dimensi Kelabu"

Nora Permatasari, 15 April 2016


Kali ini pemandangan dibalik jendela itu dapat terlihat dengan jelas. Meski tetap dengan latar belakangnya yg berwarna kelabu, namun manusia yg ada didalamnya tidak lagi seperti gambar berlensa buram. Seorang gadis kecil berusia sekitar 4 tahun menggelendot dikaki ibunya. Dia berteriak-teriak cadel sambil mengusap hidungnya yg mengalirkan ingus. Wajah manis dan lucu tertutup debu yg menghitam karena bercampur dengan air mata. Sekali lagi sang Ibu mencubit pinggang putrinya hingga anak itu berjingkat menahan nyeri. Tangisnya mendadak keras dan semakin menjadi-jadi. Sedang didepan jendela, Lugaina, seorang gadis muda, model terkenal nan cerdas berteriak histeris. Tak pernah ada dalam bayangannya menjadi seorang Ibu dari anak yg kumel dan susah diatur. "Celaka! Tidak boleh seperti itu." Lugaina menarik napas panjang sambil meraba botol air mineralnya. Dia sedikit lega sebab berhasil enyah dari depan jendela sebelum mencapai adegan berikutnya. Sebenarnya, Lugaina berada didepan jendela itu setiap dia terpejam dan berhasil lelap dengan nyenyak. Entah kenapa Ia baru menyadari hal itu ketika tontonan dibalik jendela menjadi tragedi pasti dikehidupannya. Seperti; kecelakaan yg menimpa Il Zaga, seorang fotografer freelance yg juga merupakan tunangannya. Di balik jendela itu dia pernah melihat Toyota Wish milik Il Zaga disulut api yg membara hingga jadi debu. Setengah jam ketika Lugaina terjaga dari tidurnya, dia mendapat telepon bahwa tunangannya meninggal karena tabrakan dengan truk gandeng. Mobilnya hancur, sedang tubuh Il Zaga utuh tanpa luka. Hanya nyawa yg pergi bersama ruh meninggalkan seonggok raga. Pernah juga, didepan jendela itu Lugaina menyaksikan sendiri tragedi mengenaskan yg menimpa kakak laki-lakinya yg bekerja di Dinas Intelijen Negara. Lugaina hanya menatap miris dan merutuki diri sendiri ketika melihat anjing pelacak milik kakaknya mencabik leher tuannya hingga meninggal. Tapi sampai saat ini kakaknya masih hidup dengan tenang. Dan hanya berkata ringan kepada adiknya ketika Lugaina menceritakan tentang hal itu. "Sepertinya kamu lupa berdo'a dan gosok gigi sebelum tidur". Memang tak ada yg mengerti dengan perasaan Lugaina tentang lorong hitam, jendela dan warna kelabu didalam dimensi tersebut. Dunia yg hanya ada ketika Ia memejam dengan pulas. ** Dari balik jendela transparan yg hanya ditutupi semacam selaput bening itulah Lugaina melihat dirinya sendiri dalam berbagai macam kejadian. Seperti menonton film dilayar yg sangat besar. Kadang Lugaina ingin masuk kesana, mengacaukan atau mengubah jalannya cerita. Tapi tetap, jendela itu tak dapat ditembus. Sering sebelum memasuki lorong gelap panjang yg membawanya ke dimensi tersebut, Lugaina menyiapkan benda-benda tajam semacam jarum atau pisau dapur dibalik bantalnya guna merobek selaput bening dijendela. Namun percuma, benda tersebut selalu tertinggal dan Lugaina akan menghadap ke jendela dengan tangan kosong serta perasaan was-was akan tragedi yg akan Ia saksikan selanjutnya. ** Angka-angka dialmanak terus berganti ketika Lugaina kini merasa biasa berdiri didepan jendela setiap malam, sebab tak selamanya tontotan dibalik jendela menyeramkan. Akhir-akhir ini Ia sering melihat dirinya berada di atas panggung Miss Indonesia sebagai salah satu finalis. Kadang berganti, Lugaina bahkan dapat merasakan bahagianya menjadi salah satu model pakaian hasil rancangan desainer dari New York Fashion School. Berkat mimpi-mimpi indh itu, Lugaina ingin cepat-cepat beristirahat lalu tertidur dengan nyenyak. Sebelum tidur, Ia yg biasa mengecek notification diakun twitter pribadi miliknya lebih memilih membaca makna tafsir Kitab Suci. Karena dengan begitu, matanya jadi lebih berat dan kelopaknya akan cepat mengatup. Bukankah iblis memang paling gemar nongkrong di atas kelopak mata orang-orang yg membaca kitab suci?? Jika sudah begitu, mulailah Lugaina menyusuri lorong hitam yg akan melemparkannya tepat didepan jendela dengan latar belakang berwarna abu-abu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini hanya ada kabut tebal yg dapat terlihat dibalik jendela. Lugaina menatap enggan kedalam pekatnya kabut. Sesaat kemudian, muncul percikan cahaya lampu pijar, cahaya yg membentuk kaki, kemudian tubuh. Iya, itu adalah cahaya yg menjelma sebagai manusia keluar menerobos lapisan kabut. "Demi Tuhan, benarkah?!" Lugaina membatin. Dia terperangah denan bongkahan bahagia yg meletup-letup. Seorang lelaki terus berjalan kerahnya sambil tersenyum ringan. Hingga ketika jarak mereka sekitar 30 jengkal, Lugaina mulai cemas. Tidak mungkin baginya untuk bisa bertemu dengan Il Zaga. Karena selama ini jendela transparan itu tak pernah mampu ditembus. Seperti itu, sebelumnya kematian Il Zaga adalah pembatas mutlak hubungan mereka didunia. Lalu sekarang, jendela transparan itu jadi sekat untuk Lugaina dapat hidup kembali dengan lelakinya. Lugaina tak berkedip ketika merasakan jemari Il Zaga meraih lengannya. Berhasil menembus sekat, keduanya berlari pada puncak bahagia. *** oleh: n o R a

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...