Sunday, November 12, 2017

Cerpen "Tentang Perempuan itu, Will. ."

Cerpen "Tentang Perempuan itu, Will. ."
Nora Permatasari, 11 April 2016


Saat aku menulis cerita ini, dalam keremangan yg senyap. Dua orang saling merangkul; Kali ini kau tak kuasa menahan air mata yg mengalir deras meski tak bersuara, dagumu seolah tenggelam jauh kedalam pundaknya. Tanpa berniat untuk membagi sakit, tapi luka dan sesak luruh dalam pelukannya. Widya, putramu juga sama. Aku bahkan terenyuh sangat, melihat pemuda itu sesenggukan di belakang kepalamu. Palung matanya memproduksi ratusan kubik air yg menerobos jendela matanya yg selama ini kau lihat kaku. Entah apa yg ada dipikiran bocah yg kini telah beranjak dewasa itu. Aku yakin, dia tak seangkuh bapaknya. Dia menangis bukan karena Ia anakmu yg minta dibelikan mainan baru, tapi dia ingin menjadi lelaki. ** Biar kuceritakan padamu Will, sedikit tentang perempuan itu. Antara kau dan Tuhan, dia menaruh cinta dan rasa malu yg hampir sederajat. Dia mencintaimu, sebab itu dia memperjuangkanmu sedemikian kerasnya. Wajar jika kamu tak tahu tentang hal ini. Karena baginya tidaklah begitu penting menceritakan prahara yg Ia hadapi kepada seorang putra. Bukan tentang beratnya mengandung, sakitnya melahirkan, atau sederet peran kepahlawanan yg lazim dilakoni sebagai ibu. Dia berbeda Will! Widya, ibumu itu; kehilangan hampir separuh hidupnya hanya untuk melihat kau hidup dengan baik. Selain mencintaimu, dia juga menyimpan malu. Takut jika aibnya 22 tahun yg lalu terkuak dan mendarat ditelingamu. "Tak apa kutanggung dosa didunia dan akhirat, sebagai tebusan untuk bayiku." begitu do'anya lirih pada sujud terakhir. Saat itu kau masih dalam kandungan. Sama seperti padamu. Dia mencintai-NYA tapi malu untuk menyapa-NYA. Jangan heran jika kau tak pernah melihat ibumu sholat, meski dia pandai mengajarimu menghafal surah pendek semasa kau masih belajar mengeja. Sebelum suaminya membelenggu peraturan ketat dan memberi jarak antara ibu dan anak. "Aku bukanlah Saidah Maryam, perempuan yg ditiupkan bayi Isa Al Masih oleh malaikat Jibril kedalam rahimnya atas firman Allah. Dia dan putranya dilindungi, sedang aku?" Kau tak menyaksikan Will, ketika dia berkata demikian kepadaku dengan wajah pucat dan tegang serta tatapan berisi beban yg sudah menumpuk disekujur tubuhnya. Maaf jika aku harus menceritakan hal ini kepadamu. Widya, ibumu itu hanyalah seorang perempuan lugu yg terpaut cinta seorang pria beristri. Pria yg secara fisik berperawakan hampir sempurna itu juga jatuh hati dengan sungguh kepada ibumu. Pun dia nekat meminang Widya secara diam-diam dari keluarganya dan publik. Mereka menikah diatas kapal pesiar miliknya 3 bulan setelah Ia meletuskan sperma kedalam rahim Ibumu. Tentu setelah memastikan bahwa kertas testpeck yg dicelupkan kedalam urine ibumu berwarna merah kedua garisnya. Tanpa segan, sesaat setelah menikah, dia membawa ibumu ke rumahnya, mengenalkannya kepada keluarga besar Kimtara. Sekaligus nama Ibumu dicoret dari keluarganya, sebab telah mencoreng nama baik keluarga. "Ini Widya, istriku. Yang memberikan untuk kita seorang penerus Kimtara" Ucapnya dengan bangga. Ibumu bahagia sesaat Will, mereka semua ramah akan kehadirannya dirumah itu. Terlebih saat engkau pertama kali melihat dunia, keluar dari selaput yg menjagamu selama 9 bulan 10 hari. Keluarga Kimtara seolah mendapat sesuatu yg berharga. "Willhan Anshori" Usul Ibumu memberi nama. "Tidak, Wildan Kimtara. Dia adalah penerus Kimtara Group." Sejak saat itu, usulan ibumu hanya seperti bantahan yg membuat murka pria itu. Dia tak lagi menghiraukan cintanya kepada Widya. "Andai Tuhan tak mau maafkanku, biarlah aku menjadi buah laknat. Tapi, siapa yg akan menjaga putraku? Dia bukan Isa Al Masih putra Maryam yg dijaga oleh Rohul Kudus." Lagi-lagi ibumu berbisik lirih saat hendak menggelar sajadah-yg segera Ia batalkan karena malu menduduki kain itu. Dia masih, tetap mencintai Tuhannya. Tapi malu akan nafsu yg tak mampu Ia jaga saat bersama bapakmu dulu. ** Will, mungkin kau tahu hal ini, tapi kau cuek saja karena mendengar alasan bapakmu "Ini untuk kepentingan administrasi saja". Saat engkau berumur 30 hari, dia dan keluarga besar Kimtara memang telah sepakat memalsukan nama ibumu di akte kelahiran dengan nama istri pertamanya, yang sah dimata agama, juga dimata hukum. Ibumu tahu, tentu kau tidak akan bisa merasakan betapa parahnya luka yg Ia pendam saat itu. Kau juga mungkin tak perduli Will, saat kau berusia 11 tahun, harus menempuh pendidikan di Madrid, berpisah dengan Ibumu hingga sekarang kau baru kembali. Widya, ibumu itu telah melalui tahap demi fase ragam sakit hidup sebagai istri simpanan Hadi Kimtara, seorang yg menduduki angka ke-4 sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara. Tentu kau tak heran, Will. Beberapa jam yg lalu, saat pengukuhanmu sebagai pewaris utuh Kumtara group, perempuan itu tak kau lihat hadir didalam pesta yg memakan biaya hampir 9 miliyar. Tapi jangan heran juga, saat kau mencari, malah mendapati Ibumu sedang meneguk wine. Dan pria itu tertawa geli melihatnya jatuh tersungkur karena telah kehilangan akal sehatnya didepanmu. *** by: N o r a

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...