Cerpen "Tentang
Perempuan itu, Will. ."
Nora Permatasari, 11 April 2016
Saat aku menulis cerita
ini, dalam keremangan yg senyap. Dua orang saling merangkul; Kali ini kau tak
kuasa menahan air mata yg mengalir deras meski tak bersuara, dagumu seolah
tenggelam jauh kedalam pundaknya. Tanpa berniat untuk membagi sakit, tapi luka
dan sesak luruh dalam pelukannya. Widya, putramu juga sama. Aku bahkan terenyuh
sangat, melihat pemuda itu sesenggukan di belakang kepalamu. Palung matanya
memproduksi ratusan kubik air yg menerobos jendela matanya yg selama ini kau
lihat kaku. Entah apa yg ada dipikiran bocah yg kini telah beranjak dewasa itu.
Aku yakin, dia tak seangkuh bapaknya. Dia menangis bukan karena Ia anakmu yg minta
dibelikan mainan baru, tapi dia ingin menjadi lelaki. ** Biar kuceritakan
padamu Will, sedikit tentang perempuan itu. Antara kau dan Tuhan, dia menaruh
cinta dan rasa malu yg hampir sederajat. Dia mencintaimu, sebab itu dia
memperjuangkanmu sedemikian kerasnya. Wajar jika kamu tak tahu tentang hal ini.
Karena baginya tidaklah begitu penting menceritakan prahara yg Ia hadapi kepada
seorang putra. Bukan tentang beratnya mengandung, sakitnya melahirkan, atau
sederet peran kepahlawanan yg lazim dilakoni sebagai ibu. Dia berbeda Will!
Widya, ibumu itu; kehilangan hampir separuh hidupnya hanya untuk melihat kau
hidup dengan baik. Selain mencintaimu, dia juga menyimpan malu. Takut jika
aibnya 22 tahun yg lalu terkuak dan mendarat ditelingamu. "Tak apa kutanggung
dosa didunia dan akhirat, sebagai tebusan untuk bayiku." begitu do'anya
lirih pada sujud terakhir. Saat itu kau masih dalam kandungan. Sama seperti
padamu. Dia mencintai-NYA tapi malu untuk menyapa-NYA. Jangan heran jika kau
tak pernah melihat ibumu sholat, meski dia pandai mengajarimu menghafal surah
pendek semasa kau masih belajar mengeja. Sebelum suaminya membelenggu peraturan
ketat dan memberi jarak antara ibu dan anak. "Aku bukanlah Saidah Maryam,
perempuan yg ditiupkan bayi Isa Al Masih oleh malaikat Jibril kedalam rahimnya
atas firman Allah. Dia dan putranya dilindungi, sedang aku?" Kau tak
menyaksikan Will, ketika dia berkata demikian kepadaku dengan wajah pucat dan
tegang serta tatapan berisi beban yg sudah menumpuk disekujur tubuhnya. Maaf
jika aku harus menceritakan hal ini kepadamu. Widya, ibumu itu hanyalah seorang
perempuan lugu yg terpaut cinta seorang pria beristri. Pria yg secara fisik
berperawakan hampir sempurna itu juga jatuh hati dengan sungguh kepada ibumu.
Pun dia nekat meminang Widya secara diam-diam dari keluarganya dan publik.
Mereka menikah diatas kapal pesiar miliknya 3 bulan setelah Ia meletuskan
sperma kedalam rahim Ibumu. Tentu setelah memastikan bahwa kertas testpeck yg
dicelupkan kedalam urine ibumu berwarna merah kedua garisnya. Tanpa segan,
sesaat setelah menikah, dia membawa ibumu ke rumahnya, mengenalkannya kepada
keluarga besar Kimtara. Sekaligus nama Ibumu dicoret dari keluarganya, sebab
telah mencoreng nama baik keluarga. "Ini Widya, istriku. Yang memberikan
untuk kita seorang penerus Kimtara" Ucapnya dengan bangga. Ibumu bahagia
sesaat Will, mereka semua ramah akan kehadirannya dirumah itu. Terlebih saat
engkau pertama kali melihat dunia, keluar dari selaput yg menjagamu selama 9
bulan 10 hari. Keluarga Kimtara seolah mendapat sesuatu yg berharga.
"Willhan Anshori" Usul Ibumu memberi nama. "Tidak, Wildan
Kimtara. Dia adalah penerus Kimtara Group." Sejak saat itu, usulan ibumu
hanya seperti bantahan yg membuat murka pria itu. Dia tak lagi menghiraukan
cintanya kepada Widya. "Andai Tuhan tak mau maafkanku, biarlah aku menjadi
buah laknat. Tapi, siapa yg akan menjaga putraku? Dia bukan Isa Al Masih putra
Maryam yg dijaga oleh Rohul Kudus." Lagi-lagi ibumu berbisik lirih saat
hendak menggelar sajadah-yg segera Ia batalkan karena malu menduduki kain itu.
Dia masih, tetap mencintai Tuhannya. Tapi malu akan nafsu yg tak mampu Ia jaga
saat bersama bapakmu dulu. ** Will, mungkin kau tahu hal ini, tapi kau cuek
saja karena mendengar alasan bapakmu "Ini untuk kepentingan administrasi
saja". Saat engkau berumur 30 hari, dia dan keluarga besar Kimtara memang
telah sepakat memalsukan nama ibumu di akte kelahiran dengan nama istri
pertamanya, yang sah dimata agama, juga dimata hukum. Ibumu tahu, tentu kau
tidak akan bisa merasakan betapa parahnya luka yg Ia pendam saat itu. Kau juga
mungkin tak perduli Will, saat kau berusia 11 tahun, harus menempuh pendidikan
di Madrid, berpisah dengan Ibumu hingga sekarang kau baru kembali. Widya, ibumu
itu telah melalui tahap demi fase ragam sakit hidup sebagai istri simpanan Hadi
Kimtara, seorang yg menduduki angka ke-4 sebagai orang terkaya se-Asia
Tenggara. Tentu kau tak heran, Will. Beberapa jam yg lalu, saat pengukuhanmu
sebagai pewaris utuh Kumtara group, perempuan itu tak kau lihat hadir didalam
pesta yg memakan biaya hampir 9 miliyar. Tapi jangan heran juga, saat kau
mencari, malah mendapati Ibumu sedang meneguk wine. Dan pria itu tertawa geli
melihatnya jatuh tersungkur karena telah kehilangan akal sehatnya didepanmu.
*** by: N o r a
No comments:
Post a Comment