Sunday, November 12, 2017

Cerpen "Lelaki yg dibawa Pergi oleh Senja"

Cerpen "Lelaki yg dibawa Pergi oleh Senja"

nora permatasari 16 maret 2016


"Tunggu. . !" Lyla telah berlari sejauh-jauhnya. Mengejar sosok diujung jalan -yg tak pernah mampu dia susul. "Sedikit lagi. ." Tapi Lyla sudah merasa sangat lelah. Dan hanya menatap pasrah pada siluet yg hendak hilang. "Aku ingin ikut denganmu, tunggu. !" Lagi, Lyla berteriak dengan sisa tenaga. Meski yg terdengar hanya seperti bisikan lirih yg sangat lemah. Lelaki itu menoleh. Dia berdiri beberapa centi dari garis fatamorgana. Garis berwarna hitam yg terlihat seperti air. Jika lelaki itu melintasinya, maka Ia akan menghilang seperti biasa-pergi entah kemana. Bersamaan dengan tenggelamnya koin raksasa berwarna kuning keemasan yg terbentang megah tepat dibalik punggungnya. "Sungguh, kali ini aku mohon. . ." Lyla berlutut diaspal-tanpa melepas pandangan pada lelaki itu. Dari tempatnya, Lyla melihat lelaki itu melingkarkan kedua tangan dibibir, membentuk corong. Dia berteriak, tapi seperti sebelumnya, Lyla tak dapat mendengar apa-apa. Hanya hembusan angin yg menghempas pasir gurun dipinggir jalan. Matahari bundar berwarna kuning tinggal seperdua. Lelaki itu masih mematung disana. Seolah Ia juga mengharap Lyla berdiri dihadapannya. Tapi Dia maupun Lyla tak dapat saling mengejar satu sama lain. Pertama-tama, lelaki itu mengangkat jari kelingking dan ibu jari tangan kanannya. Kemudian jari telunjuk dan ibu jari membentuk siku" di udara. Disusul jari tengah dan telunjuk yg mengarah ke bawah, selanjutnya jari kelingking yg berdiri sendiri. Terakhir, telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran dengan ketiga sisanya berdiri tegak. Semua itu berganti dengan cepat. Lyla tersenyum tipis. Kode itu pernah diajarkan oleh Dokter Kenzo. Biasa digunakan ketika Lyla enggan berkomunikasi via oral. Lyla biasa menyebutnya dengan trik psychotherapy Kenzo. "Bagaimanapun keadaannya, kita adalah satu. Aku percaya hari itu ada, aku dan kamu akan berdiri dan berjalan bersama. Berjanjilah untuk tetap baik2 saja. Kekuatan hati itu seperti angka 0, melingkar utuh tanpa jeda!" Lyla bergumam, menerjemahkan kode itu dengan yakin. Sesaat kemudian, lelaki itu memutar tubuh. Berjalan melanjutkan langkah, dengan gagah dan pasti. Tepat saat pandangan Lyla menjadi kosong, ketika lelaki itu telah lenyap, bersama senja yg menyisakan warna kemerahan. "Lyla. !" Seseorang memanggilnya, suara sepatu terhenti beberapa langkah dibelakang Lyla. "Kamu bermain terlalu jauh hari ini." Lyla tak menjawab. Tubuhnya masih terduduk diatas aspal hitam. "Kembalilah. ." "Tidak!" "Kamu masih marah?" "Aku sudah tidak mempermasalahkan tentang itu!" Nada dingin terlontar, Lyla tak membalas uluran tangan Dokter Kenzo yg mengajaknya pulang. "Lalu apa yg harus aku lakukan sekarang? Memetik bintang? Sayang, aku bukan Tuhan. " Jelas Dokter Kenzo tetap lembut. Psikolog muda itu masih merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi permintaan Lyla. "Aku mau kamu mencuri senja itu. Lalu gantung dilangit2 kamar, kunci pintu rapat2, agar dia tidak lari!" Bisik Lyla suatu sore ketika mereka menikmati senja ditempat itu. Kala itu, Dokter Kenzo merasa telah gagal menjadi suami bagi Lyla. Wanita berusia 20 tahun yg Ia nikahi 7 bulan yg lalu banyak menghabiskan waktu bersama imajinasi. Jangankan mengambil senja, untuk menjelaskan apa itu senja saja Dokter Kenzo hanya akan berkata singkat "Sunset"-matahari tenggelam. Sedikit menyesal, tak memiliki naluri tentang hal2 seperti itu. Senja telah mengalahkan cinta Lyla kepada Dokter Kenzo. Bahkan jauh sebelum mengenal Dokter Kenzo, cinta pertama Lyla adalah senja-bisa jadi. "Dokter, aku ingin kesana. Aku ingin pergi bersama dia." Lyla berujar dengan nada cemas. Keinginannya seperti ketakutan yg harus segera dituntaskan. "Dia siapa?" "Dia, lelaki yg baru saja pergi. Aku yakin, dia pasti menungguku disana, tapi. . ." Dokter Kenzo terhenyak. Imajinasi liar sang istri menggeser keberadaannya. "Tapi dia masih belum mau menjemputku. ." Lyla menggeleng sambil sesenggukan. "Kau tahu, tadi sebelum pergi dia memberiku pesan. Aku juga melihat dengan jelas didalam senja yg sepotong itu, disana ada aku dan dia. ." "Lyla, tak ada apa2 didalam senja, tidak ada kehidupan disana. !" "Apa?! Kau akan bilang senja itu hanya seperti labirin raksasa, ruang hampa berwarna kuning, yg tak berarti, hah?" Cecar Lyla dengan hasil fantasinya lagi. "Dia pasti kesepian disana. Seharusnya hari ini aku tak boleh kehilangan dia. Kita akan tidur didalam senja, minum teh bersama." Sambung Lyla bernada retoris. Dokter Kenzo gamang, Ia tidak menyangka imanjinasi Lyla sejauh itu, tersesat begitu lama. Pria itu menatap dalam kedua mata bening milik Lyla. Hingga wanita itu dapat melihat pertama kali ada air yang menggenang disana. Membentuk binar2 pada bolanya yg berwarna cokelat. "Aku akan mengambil senja itu untukmu. Membawa lelaki itu, dan. . Kau siapkan saja dua cangkir teh. ." Suaranya bergetar, Dokter Kenzo berdiri, berjalan pergi kearah hilangnya senja. Dia melangkah dengan gagah, dengan pasti. Diujung jalan, dia hilang. . . *** oleh: Perii Biru (Nra_Nra) 

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...