Cerpen "Lelaki yg
dibawa Pergi oleh Senja"
nora permatasari 16 maret 2016
"Tunggu. . !"
Lyla telah berlari sejauh-jauhnya. Mengejar sosok diujung jalan -yg tak pernah
mampu dia susul. "Sedikit lagi. ." Tapi Lyla sudah merasa sangat lelah.
Dan hanya menatap pasrah pada siluet yg hendak hilang. "Aku ingin ikut
denganmu, tunggu. !" Lagi, Lyla berteriak dengan sisa tenaga. Meski yg
terdengar hanya seperti bisikan lirih yg sangat lemah. Lelaki itu menoleh. Dia
berdiri beberapa centi dari garis fatamorgana. Garis berwarna hitam yg terlihat
seperti air. Jika lelaki itu melintasinya, maka Ia akan menghilang seperti
biasa-pergi entah kemana. Bersamaan dengan tenggelamnya koin raksasa berwarna
kuning keemasan yg terbentang megah tepat dibalik punggungnya. "Sungguh,
kali ini aku mohon. . ." Lyla berlutut diaspal-tanpa melepas pandangan
pada lelaki itu. Dari tempatnya, Lyla melihat lelaki itu melingkarkan kedua
tangan dibibir, membentuk corong. Dia berteriak, tapi seperti sebelumnya, Lyla
tak dapat mendengar apa-apa. Hanya hembusan angin yg menghempas pasir gurun
dipinggir jalan. Matahari bundar berwarna kuning tinggal seperdua. Lelaki itu
masih mematung disana. Seolah Ia juga mengharap Lyla berdiri dihadapannya. Tapi
Dia maupun Lyla tak dapat saling mengejar satu sama lain. Pertama-tama, lelaki
itu mengangkat jari kelingking dan ibu jari tangan kanannya. Kemudian jari
telunjuk dan ibu jari membentuk siku" di udara. Disusul jari tengah dan
telunjuk yg mengarah ke bawah, selanjutnya jari kelingking yg berdiri sendiri.
Terakhir, telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran dengan ketiga sisanya
berdiri tegak. Semua itu berganti dengan cepat. Lyla tersenyum tipis. Kode itu
pernah diajarkan oleh Dokter Kenzo. Biasa digunakan ketika Lyla enggan
berkomunikasi via oral. Lyla biasa menyebutnya dengan trik psychotherapy Kenzo.
"Bagaimanapun keadaannya, kita adalah satu. Aku percaya hari itu ada, aku
dan kamu akan berdiri dan berjalan bersama. Berjanjilah untuk tetap baik2 saja.
Kekuatan hati itu seperti angka 0, melingkar utuh tanpa jeda!" Lyla
bergumam, menerjemahkan kode itu dengan yakin. Sesaat kemudian, lelaki itu
memutar tubuh. Berjalan melanjutkan langkah, dengan gagah dan pasti. Tepat saat
pandangan Lyla menjadi kosong, ketika lelaki itu telah lenyap, bersama senja yg
menyisakan warna kemerahan. "Lyla. !" Seseorang memanggilnya, suara
sepatu terhenti beberapa langkah dibelakang Lyla. "Kamu bermain terlalu
jauh hari ini." Lyla tak menjawab. Tubuhnya masih terduduk diatas aspal
hitam. "Kembalilah. ." "Tidak!" "Kamu masih
marah?" "Aku sudah tidak mempermasalahkan tentang itu!" Nada
dingin terlontar, Lyla tak membalas uluran tangan Dokter Kenzo yg mengajaknya
pulang. "Lalu apa yg harus aku lakukan sekarang? Memetik bintang? Sayang,
aku bukan Tuhan. " Jelas Dokter Kenzo tetap lembut. Psikolog muda itu
masih merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi permintaan Lyla. "Aku
mau kamu mencuri senja itu. Lalu gantung dilangit2 kamar, kunci pintu rapat2,
agar dia tidak lari!" Bisik Lyla suatu sore ketika mereka menikmati senja
ditempat itu. Kala itu, Dokter Kenzo merasa telah gagal menjadi suami bagi
Lyla. Wanita berusia 20 tahun yg Ia nikahi 7 bulan yg lalu banyak menghabiskan
waktu bersama imajinasi. Jangankan mengambil senja, untuk menjelaskan apa itu
senja saja Dokter Kenzo hanya akan berkata singkat "Sunset"-matahari
tenggelam. Sedikit menyesal, tak memiliki naluri tentang hal2 seperti itu.
Senja telah mengalahkan cinta Lyla kepada Dokter Kenzo. Bahkan jauh sebelum
mengenal Dokter Kenzo, cinta pertama Lyla adalah senja-bisa jadi. "Dokter,
aku ingin kesana. Aku ingin pergi bersama dia." Lyla berujar dengan nada
cemas. Keinginannya seperti ketakutan yg harus segera dituntaskan. "Dia
siapa?" "Dia, lelaki yg baru saja pergi. Aku yakin, dia pasti menungguku
disana, tapi. . ." Dokter Kenzo terhenyak. Imajinasi liar sang istri
menggeser keberadaannya. "Tapi dia masih belum mau menjemputku. ."
Lyla menggeleng sambil sesenggukan. "Kau tahu, tadi sebelum pergi dia
memberiku pesan. Aku juga melihat dengan jelas didalam senja yg sepotong itu,
disana ada aku dan dia. ." "Lyla, tak ada apa2 didalam senja, tidak
ada kehidupan disana. !" "Apa?! Kau akan bilang senja itu hanya
seperti labirin raksasa, ruang hampa berwarna kuning, yg tak berarti,
hah?" Cecar Lyla dengan hasil fantasinya lagi. "Dia pasti kesepian
disana. Seharusnya hari ini aku tak boleh kehilangan dia. Kita akan tidur
didalam senja, minum teh bersama." Sambung Lyla bernada retoris. Dokter
Kenzo gamang, Ia tidak menyangka imanjinasi Lyla sejauh itu, tersesat begitu
lama. Pria itu menatap dalam kedua mata bening milik Lyla. Hingga wanita itu
dapat melihat pertama kali ada air yang menggenang disana. Membentuk binar2
pada bolanya yg berwarna cokelat. "Aku akan mengambil senja itu untukmu.
Membawa lelaki itu, dan. . Kau siapkan saja dua cangkir teh. ." Suaranya
bergetar, Dokter Kenzo berdiri, berjalan pergi kearah hilangnya senja. Dia
melangkah dengan gagah, dengan pasti. Diujung jalan, dia hilang. . . *** oleh:
Perii Biru (Nra_Nra)
No comments:
Post a Comment