Sunday, November 12, 2017

Cerpen Aku Menunggumu, Tuan Muda

Cerpen "Aku Menunggumu, Tuan Muda. ."

Nora Permatasasi, 30 Maret 2016

Sekarang sudah masuk musim dingin. Aku mendapati diriku berada disebuah negeri yg bersalju. Hanya karena sebuah penantian, aku bahkan bisa menjejaki tanah Joseon (Korea). Masih di atas kapal Reiner, dengan butiran2 halus yg berjatuhan, dengan gigil yg kerap kali menggigit, aku tak kenal menyerah. Malah, bulan2 sebelumnya telah kulalui badai yg dihadirkan musim. Sebab dia berjanji akan menemuiku disini, di dek kapal Reiner. Aku menunggu, layaknya seorang gadis yg berani menjatuhkan hati. ** Sebut saja aku, wanita yg hidup disisa malam. Waktu itu, aku hendak pulang sebab fajar mulai datang. Warna merah mulai bertandang diufuk sana. Saat itulah, seseorang datang menemuiku dengan tergesa. Seorang lelaki yg tubuhnya tersusun dari serpihan kering daun anggur dimusim panas. "Berikan aku secangkir kopi!" Bibirnya bergetar. Meski terbuat dari daun kering, dia punya bola mata yg jernih dengan tatapan hangat. "Setidaknya kafein bisa membuatku bertahan untuk beberapa jam kedepan" Ujarnya lagi semakin gelisah. Aku sadar, dia sedang membutuhkan pertolongan. Bias jingga dan hamparan biru bergandengan dilangit lepas, aku pun ikut cemas dan memutuskan untuk tidak menolongnya. Alasan lain karena aku tak punya kopi. Aku bergegas pergi sebelum menjadi sirna oleh matahari. Malam berikutnya, aku kembali ke danau Anara, tetap sebagai molekul air yg rentan pecah. Tapi aku selalu berdo'a agar menjadi embun yg abadi. Kali ini kuseduh 2 cangkir teh. Entah kenapa firasatku kuat bahwa lelaki itu akan kembali. Benar, dia datang lagi. Dengan tenang duduk disampingku, diatas daun teratai muda, dengan kaki bergelantungan kedalam air dini hari yg membuat kuyup kaki2 kita. "Sepertinya teh dengan sedikit ekstrak mint cukup menyenangkan." Dia melirik, lalu mengambil salah satu cangkir teh yg tersaji. Aku mencoba lebih akrab. "Bagaimana aku harus memanggilmu?" "Terserah kau saja. Bagiku nama hanya sekedar kiasan. Tak begitu penting untuk harus memiliki sebuah panggilan." Dia tersenyum ramah. "Aroma mintnya kuat, aku merasa nyawaku bertambah satu lagi, setelah pertama karena bertemu denganmu." Aku hanya terkekeh. "Dengan apa aku bisa menggantikan teh dan pertemuan malam ini?" Sambungnya dengan lirih. "Lakukan saja apa yg menurutmu baik, Tuan muda. ." "Baiklah, jika kau tidak keberatan, dihari pergantian cuaca ada kapal yg akan berlayar ke Alaska. Aku akan menemuimu disana." Kalimat itu begitu meyakinkan, meski aku tahu pergantian cuaca yg terjadi di pagi hari akan sangat beresiko untukku. ** Hujan musim semi mulai berjatuhan. Aku telah berdiri didek belakang kapal Reiner yg terbuka. Dengan 2 cangkir teh tentunya. Waktu berselang, jarum jam sudah miliaran kali kulihat saling berpelukan. Tapi, dia tak datang. Apakah firasatku kala itu keliru? Tidak, sejak dulu firasatku tak pernah salah. Dia pasti datang menepati janji! Tuan muda, kapal Reiner sebentar lagi akan tiba diAlaska. Kapan kau kan datang? Taukah kau, bahwa aku telah memimpikannya dgn sempurna. Tentang pagi, siang, dan malam yg akan kita lewati bersama. Tentang kecutnya teh yg berplesir diujung lidah, perlahan. Sambil melambai kearah burung yg mengejar senja. Atau menyapa angsa salju yg duduk diperairan Alaska. Kau akan datang kan, Tuan Muda? Ah iya, "Kenapa kau tak hidup di waktu pagi? Apa yg kau takutkan? Matahari, angin kencang, atau kertas tisyu? Percayalah ketakutan hanya perasaan yg tak berguna." Begitu katamu, juga kaulah yg menanggalkan rasa takut yg sejak dulu melilitku. Tapi Tuan Muda, kau juga yg kini memunculkan rasa takut yg baru. Apalah aku, seorang wanita yg akan tetap menunggumu. Maka, datanglah. Sebagai ranting pohon sentigi atau akar mahoni. Tapi tolong jangan datang bersama malaikat maut. Aku tak ingin cerita ini berakhir dengan ajal yg tanpa permisi menjemput salah satu diantara kita. Lalu kapan kau akan datang? Lihatlah, detak2 kini tak lagi beraturan. Jika ada manusia yg paling cemas dari antah berantah manapun, itu aku. Aku menunggu, tak perduli kau akan dtang sebagai remah2 ikan halibut, atau kaleng bekas dipinggir laut, atau sebagai kotoran dolpin betina pun aku terima. ** Genap disatu tahun penantianku, kulihat sosok manusia kabut berlari dgn tergesa. Bahkan aku masih hafal derap langkahnya. "Kuharap belum terlambat." Tapi sedetik kemudian, dia jatuh berlutut. Menatap sedih pada jejak setengah basah didek kapal yg berwarna cokelat. Pundaknya naik turun, ombak kecil melompat dari kedua matanya. 136 detik yg lalu, ketika lelaki itu belum tiba, ketika langit berwarna biru terang. Sebuah cahaya merah berbentuk busur menghantam tubuhku. Tanpa bertanya apa2, nyawaku direnggut. Dan akhirnya engkau datang Tuan muda. ** Aku melihat lelaki itu menutup jejak yg hampir mengering dengan selembar pucuk daun teh. Setangkai kecil melati jadi nisan, lalu menulis dengan getah anggrek bulan "wanitaku, jika ada sesuatu yg bersembunyg dibalik rasa. Mengertilah bahwa itu adalah masa depan yg tak sempat kulapalkan". *** oleh: AKU ~Nora~

berteriak, menjauhlah. ! Dia tetap tak bergeming. . Haus mencekat kerongkongan. . Diam-diam kulihat ada telaga dimatanya. . Didalam bening yg berair. . Bukan kolam susu, tapi genangan yg tiba" muncul. Aku tak peduli. . Sebab yg kutunggu perlahan disingkirkan oleh dia. Ketika itu, . Ketika semuanya hening. . Hingga tak ada apa" yg membekas, tidak Kau atau dia. .

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...