Cerpen "Aku
Menunggumu, Tuan Muda. ."
Nora Permatasasi, 30 Maret 2016
Sekarang sudah masuk
musim dingin. Aku mendapati diriku berada disebuah negeri yg bersalju. Hanya
karena sebuah penantian, aku bahkan bisa menjejaki tanah Joseon (Korea). Masih
di atas kapal Reiner, dengan butiran2 halus yg berjatuhan, dengan gigil yg
kerap kali menggigit, aku tak kenal menyerah. Malah, bulan2 sebelumnya telah
kulalui badai yg dihadirkan musim. Sebab dia berjanji akan menemuiku disini, di
dek kapal Reiner. Aku menunggu, layaknya seorang gadis yg berani menjatuhkan
hati. ** Sebut saja aku, wanita yg hidup disisa malam. Waktu itu, aku hendak
pulang sebab fajar mulai datang. Warna merah mulai bertandang diufuk sana. Saat
itulah, seseorang datang menemuiku dengan tergesa. Seorang lelaki yg tubuhnya
tersusun dari serpihan kering daun anggur dimusim panas. "Berikan aku
secangkir kopi!" Bibirnya bergetar. Meski terbuat dari daun kering, dia
punya bola mata yg jernih dengan tatapan hangat. "Setidaknya kafein bisa
membuatku bertahan untuk beberapa jam kedepan" Ujarnya lagi semakin
gelisah. Aku sadar, dia sedang membutuhkan pertolongan. Bias jingga dan
hamparan biru bergandengan dilangit lepas, aku pun ikut cemas dan memutuskan
untuk tidak menolongnya. Alasan lain karena aku tak punya kopi. Aku bergegas
pergi sebelum menjadi sirna oleh matahari. Malam berikutnya, aku kembali ke
danau Anara, tetap sebagai molekul air yg rentan pecah. Tapi aku selalu berdo'a
agar menjadi embun yg abadi. Kali ini kuseduh 2 cangkir teh. Entah kenapa
firasatku kuat bahwa lelaki itu akan kembali. Benar, dia datang lagi. Dengan
tenang duduk disampingku, diatas daun teratai muda, dengan kaki bergelantungan
kedalam air dini hari yg membuat kuyup kaki2 kita. "Sepertinya teh dengan
sedikit ekstrak mint cukup menyenangkan." Dia melirik, lalu mengambil
salah satu cangkir teh yg tersaji. Aku mencoba lebih akrab. "Bagaimana aku
harus memanggilmu?" "Terserah kau saja. Bagiku nama hanya sekedar
kiasan. Tak begitu penting untuk harus memiliki sebuah panggilan." Dia
tersenyum ramah. "Aroma mintnya kuat, aku merasa nyawaku bertambah satu
lagi, setelah pertama karena bertemu denganmu." Aku hanya terkekeh.
"Dengan apa aku bisa menggantikan teh dan pertemuan malam ini?"
Sambungnya dengan lirih. "Lakukan saja apa yg menurutmu baik, Tuan muda.
." "Baiklah, jika kau tidak keberatan, dihari pergantian cuaca ada
kapal yg akan berlayar ke Alaska. Aku akan menemuimu disana." Kalimat itu
begitu meyakinkan, meski aku tahu pergantian cuaca yg terjadi di pagi hari akan
sangat beresiko untukku. ** Hujan musim semi mulai berjatuhan. Aku telah
berdiri didek belakang kapal Reiner yg terbuka. Dengan 2 cangkir teh tentunya.
Waktu berselang, jarum jam sudah miliaran kali kulihat saling berpelukan. Tapi,
dia tak datang. Apakah firasatku kala itu keliru? Tidak, sejak dulu firasatku
tak pernah salah. Dia pasti datang menepati janji! Tuan muda, kapal Reiner
sebentar lagi akan tiba diAlaska. Kapan kau kan datang? Taukah kau, bahwa aku
telah memimpikannya dgn sempurna. Tentang pagi, siang, dan malam yg akan kita
lewati bersama. Tentang kecutnya teh yg berplesir diujung lidah, perlahan.
Sambil melambai kearah burung yg mengejar senja. Atau menyapa angsa salju yg
duduk diperairan Alaska. Kau akan datang kan, Tuan Muda? Ah iya, "Kenapa
kau tak hidup di waktu pagi? Apa yg kau takutkan? Matahari, angin kencang, atau
kertas tisyu? Percayalah ketakutan hanya perasaan yg tak berguna." Begitu
katamu, juga kaulah yg menanggalkan rasa takut yg sejak dulu melilitku. Tapi
Tuan Muda, kau juga yg kini memunculkan rasa takut yg baru. Apalah aku, seorang
wanita yg akan tetap menunggumu. Maka, datanglah. Sebagai ranting pohon sentigi
atau akar mahoni. Tapi tolong jangan datang bersama malaikat maut. Aku tak
ingin cerita ini berakhir dengan ajal yg tanpa permisi menjemput salah satu
diantara kita. Lalu kapan kau akan datang? Lihatlah, detak2 kini tak lagi
beraturan. Jika ada manusia yg paling cemas dari antah berantah manapun, itu
aku. Aku menunggu, tak perduli kau akan dtang sebagai remah2 ikan halibut, atau
kaleng bekas dipinggir laut, atau sebagai kotoran dolpin betina pun aku terima.
** Genap disatu tahun penantianku, kulihat sosok manusia kabut berlari dgn
tergesa. Bahkan aku masih hafal derap langkahnya. "Kuharap belum terlambat."
Tapi sedetik kemudian, dia jatuh berlutut. Menatap sedih pada jejak setengah
basah didek kapal yg berwarna cokelat. Pundaknya naik turun, ombak kecil
melompat dari kedua matanya. 136 detik yg lalu, ketika lelaki itu belum tiba,
ketika langit berwarna biru terang. Sebuah cahaya merah berbentuk busur
menghantam tubuhku. Tanpa bertanya apa2, nyawaku direnggut. Dan akhirnya engkau
datang Tuan muda. ** Aku melihat lelaki itu menutup jejak yg hampir mengering
dengan selembar pucuk daun teh. Setangkai kecil melati jadi nisan, lalu menulis
dengan getah anggrek bulan "wanitaku, jika ada sesuatu yg bersembunyg
dibalik rasa. Mengertilah bahwa itu adalah masa depan yg tak sempat
kulapalkan". *** oleh: AKU ~Nora~
No comments:
Post a Comment