Picisan Menjelang 36
Bulan
Nora Permatasari, 5 April 2016
Hari ini aku ingin kita
bicara secara santai tapi tetap focus, yaa. . Memang belum genap 36 bulan. 2
hari lagi, kan? Atau lupa? Bukan, bukan sejak pertama kenal. Tapi sejak pertama
ketemu. Apa kamu mau minum teh dulu? Air putih? Atau kacang goreng? Ah iya,
bahkan sampai sekarang aku tidak tahu makanan favoritmu apa. Keep rilex, gak
usah tegang gitu. Aku aja sambil uring-uringan gini. Memang kita tak pernah
bicara sedekat ini, wajar jika kamu agak canggung. Tapi kembali, bukankah kau
adalah bagian dari aku, eh bukan ya. Tapi kau adalah milikku. Dia yg
memberikannya. Buktinya, namanya saja ditulis rapi dipunggungmu. Dengan cat
warna emas. Cantik. Sebagai permulaan, aku mau tanya sesuatu. Apakah kau
mengenalinya dengan baik? Tuanmu itu maksudku. Ya,ya, . . Aku tau kamu tidak
bisa menjawab secara langsung sekarang. Sebab kamu butuh waktu untuk
menetralisir keadaan. ** 07 April '13. . Sore yg basah dengan jiwa yg penat.
Letih, hari itu rombongan kelompok kami baru saja tiba dikos, alias rumah
sewaan untuk 2 minggu kami tinggali selama menjalankan praktik klinik
keperawatan yg terakhir. Seiring dengan kegiatanku yg tengah ber'smsan ria
dengan seseorang yg kukenal beberapa bulan yg lalu, dia mengirimi pesan yg
isinya akan datang menemuiku dan menepati janjinya dulu. Setelah memberitahu
alamat, kita sepakat ketemu sore itu juga. Dengan lelah yg masih melanda, aku
pun bergegas keluar untuk menunggu. Tanpa persiapan apa2, toh kita hanya
sebatas teman kan? Lagipula menurutku, tak perlu rumitlah untuk sekedar
bertemu. Meskipun itu adalah yg pertama. Gerimis masih berjatuhan, terus
merintiki Samawa. Aku tak punya alasan untuk berteduh, sebab aku menyukainya.
Hanya beberapa langkah dari kos, aku pun berdiri didepang gang. Itu jalan Mawar
atau jalan Melati, entahlah. Aku terpaku didepan Kantor Rasesa.fm, tepat
didepan plang papan nama seorang notaris. Didepanku, ada pertigaan. Nengok
kiri, nengok kanan, melihat ke depan. Beruntung sore itu sepi, jadi aku tak
perlu pasang pose sibuk sendiri untuk menutup malu. "Bentar lagi, ini baru
selesai cukur rambut" Katanya lewat pesan singkat. Sebenarnya terselip
rasa ragu, beberapa menit menunggu, terasa 1 jam. Memang membosankan. Setiap
ada yg lewat, aku main tebak-tebakan sama otakku. Bukan dia. Ada lagi, eh bukan
juga. . Dari pembelokan di ujung jalan sebelah kiri (kalau gk salah), muncul
motor tedededet. Insting serta merta menyetujui. Jiyai, itu dia! Seett, sontak
aku melempar pandangan ke arah lain. Motor itu berhenti, jari tangan langsung
dingin (iyalah, kan lagi ujan :-D). Terus, apa ya? Lupa, aku atau dia yg nyapa
duluan. Aku senyum, memaksa untuk senyum semanis mungkin (menutupi muka yg
kumel, kan gak mandi, hihi). Gak lama, dia buka ranselnya, langsung ngeluarin
kresek hitam. Disodorin ke aku Apaan nih? "Itu yg kakak janjiin." (well,
aku gak ingat banyak percakapan kita) :-| cuma berapa menit ya, dia langsung
pamit pergi setelah mengusirku kembali ke kos. Jadi, isi kresek hitam itu
bantal pipih (sebutlah boneka) dengan warna biru putih, ada kumisnya dipipi,
mulutnya merah. Tapi yg ini gk ada baling" bambunya. Mungkin kececeran di
Meno. Haha, maaf,maaf. Dibagian punggung Si 'Pi_Emon' ada tulisan tangan dengan
cat warna emas 'Kak (. . . )'. ** Bagaimana, sudah ingat kejadian itu? Pertama
kita ketemu, kenalan. Sampai sekarang masih bersama. Meskipun Tuanmu mungkin
sudah lupa sama kita. Ayolah, sekarang giliran kau yg ngomong. Ceritakan padaku
tentang Tuan lamamu. Sebab kau tau sendiri, sampai sekarang aku tak
mengenalinya. *** Dihari Ahad yg basah, pertama kali kita bertatap wajah. ~ Note:
Ini hanya sekedar untuk mengenang. :-):-)
No comments:
Post a Comment