Sunday, November 12, 2017

Cerpen Picisan Menjelang 36 Bulan

Picisan Menjelang 36 Bulan


Nora Permatasari, 5 April 2016


Hari ini aku ingin kita bicara secara santai tapi tetap focus, yaa. . Memang belum genap 36 bulan. 2 hari lagi, kan? Atau lupa? Bukan, bukan sejak pertama kenal. Tapi sejak pertama ketemu. Apa kamu mau minum teh dulu? Air putih? Atau kacang goreng? Ah iya, bahkan sampai sekarang aku tidak tahu makanan favoritmu apa. Keep rilex, gak usah tegang gitu. Aku aja sambil uring-uringan gini. Memang kita tak pernah bicara sedekat ini, wajar jika kamu agak canggung. Tapi kembali, bukankah kau adalah bagian dari aku, eh bukan ya. Tapi kau adalah milikku. Dia yg memberikannya. Buktinya, namanya saja ditulis rapi dipunggungmu. Dengan cat warna emas. Cantik. Sebagai permulaan, aku mau tanya sesuatu. Apakah kau mengenalinya dengan baik? Tuanmu itu maksudku. Ya,ya, . . Aku tau kamu tidak bisa menjawab secara langsung sekarang. Sebab kamu butuh waktu untuk menetralisir keadaan. ** 07 April '13. . Sore yg basah dengan jiwa yg penat. Letih, hari itu rombongan kelompok kami baru saja tiba dikos, alias rumah sewaan untuk 2 minggu kami tinggali selama menjalankan praktik klinik keperawatan yg terakhir. Seiring dengan kegiatanku yg tengah ber'smsan ria dengan seseorang yg kukenal beberapa bulan yg lalu, dia mengirimi pesan yg isinya akan datang menemuiku dan menepati janjinya dulu. Setelah memberitahu alamat, kita sepakat ketemu sore itu juga. Dengan lelah yg masih melanda, aku pun bergegas keluar untuk menunggu. Tanpa persiapan apa2, toh kita hanya sebatas teman kan? Lagipula menurutku, tak perlu rumitlah untuk sekedar bertemu. Meskipun itu adalah yg pertama. Gerimis masih berjatuhan, terus merintiki Samawa. Aku tak punya alasan untuk berteduh, sebab aku menyukainya. Hanya beberapa langkah dari kos, aku pun berdiri didepang gang. Itu jalan Mawar atau jalan Melati, entahlah. Aku terpaku didepan Kantor Rasesa.fm, tepat didepan plang papan nama seorang notaris. Didepanku, ada pertigaan. Nengok kiri, nengok kanan, melihat ke depan. Beruntung sore itu sepi, jadi aku tak perlu pasang pose sibuk sendiri untuk menutup malu. "Bentar lagi, ini baru selesai cukur rambut" Katanya lewat pesan singkat. Sebenarnya terselip rasa ragu, beberapa menit menunggu, terasa 1 jam. Memang membosankan. Setiap ada yg lewat, aku main tebak-tebakan sama otakku. Bukan dia. Ada lagi, eh bukan juga. . Dari pembelokan di ujung jalan sebelah kiri (kalau gk salah), muncul motor tedededet. Insting serta merta menyetujui. Jiyai, itu dia! Seett, sontak aku melempar pandangan ke arah lain. Motor itu berhenti, jari tangan langsung dingin (iyalah, kan lagi ujan :-D). Terus, apa ya? Lupa, aku atau dia yg nyapa duluan. Aku senyum, memaksa untuk senyum semanis mungkin (menutupi muka yg kumel, kan gak mandi, hihi). Gak lama, dia buka ranselnya, langsung ngeluarin kresek hitam. Disodorin ke aku Apaan nih? "Itu yg kakak janjiin." (well, aku gak ingat banyak percakapan kita) :-| cuma berapa menit ya, dia langsung pamit pergi setelah mengusirku kembali ke kos. Jadi, isi kresek hitam itu bantal pipih (sebutlah boneka) dengan warna biru putih, ada kumisnya dipipi, mulutnya merah. Tapi yg ini gk ada baling" bambunya. Mungkin kececeran di Meno. Haha, maaf,maaf. Dibagian punggung Si 'Pi_Emon' ada tulisan tangan dengan cat warna emas 'Kak (. . . )'. ** Bagaimana, sudah ingat kejadian itu? Pertama kita ketemu, kenalan. Sampai sekarang masih bersama. Meskipun Tuanmu mungkin sudah lupa sama kita. Ayolah, sekarang giliran kau yg ngomong. Ceritakan padaku tentang Tuan lamamu. Sebab kau tau sendiri, sampai sekarang aku tak mengenalinya. *** Dihari Ahad yg basah, pertama kali kita bertatap wajah. ~ Note: Ini hanya sekedar untuk mengenang. :-):-)

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Ada yang Salah dengan Namaku?

Nora Permatasari 25 mei 2016 Namaku Mus, Yohannes Krismus. Apa ada yg salah dengan namaku? Cerita ini kutulis dua hari sebelum aku be...